Showing posts with label Buddhism. Show all posts
Showing posts with label Buddhism. Show all posts

Wednesday, March 8, 2017

HELLO AJAHN

Berikut adalah pertanyaan yang terpilih dan dijawab oleh Ajahn Brahm selama Tour d’Indonesia 2015.

-----------
Lily Zhai: Bagaimana cara agar tidak membenci orang yang menjahati kita? Susah rasanya berbelas kasih pada orang yang membuat susah hidup kita.

Ajahn Brahm: Mengapa Anda mesti marah terhadap orang yang melakukan hal buruk kepada Anda? Merekalah yang melakukan karma buruk, bukan Anda. Jika mereka yang memperoleh buah karma buruk, maka merekalah yang mestinya berduka. Jadi jangan biarkan siapa pun, tak peduli apa yang mereka lakukan, untuk merampas kebahagiaan Anda. Makin Anda membiarkan mereka membuat Anda sedih, makin mereka akan melakukannya lagi dan lagi. Namun jika Anda menjadi seperti teratai; jika Anda mengencingi teratai, semua air seni akan luruh tanpa ada bau yang tersisa. Sama pula jika Anda menuang parfum Chanel No.5 ke teratai, itu akan mengalir jatuh tanpa ada wangi yang tersisa. Anda seharusnya berlatih menjadi seperti teratai. Pujian, celaan, Anda l-e-p-a-s-k-a-n. Maka, orang hanya bisa melukai Anda sedikit. Namun sebagian besar orang berpikir, "Mereka melukaiku, mencurangiku." Tiap kali Anda mengingatnya, mereka melukai Anda sekali lagi. Namun jika mereka melakukan hal buruk ke saya, mereka hanya melukai saya sekali, lalu saya melepasnya. Maka kenangan buruk masa lalu, orang yang melakukan hal buruk kepada Anda, itu masa lalu! Itu sudah mati. Lepaslah. Mudah.... Lebih gampang diomongkan daripada dilakukan? Tidak! Lebih mudah dilakukan dibanding diomongkan.

-----------
Meli Laurensia: Apa sih tujuan manusia itu hidup?

Ajahn Brahm: Tujuan hidup adalah belajar, bertumbuh menjadi orang yang lebih baik. Sama seperti pergi ke sekolah. Jika Anda tidak lulus ujian, Anda harus mengulangnya lagi. Jika Anda gagal dalam ujian kehidupan, Anda harus kembali lagi. Dengan memakai popok, mengisap kempeng di mulut, Anda harus masuk sekolah kehidupan dari awal lagi. Maka berlatihlah dengan baik, jadilah orang yang lebih baik, lebih bijak, bermeditasilah, dan Anda akan lulus ujian kehidupan. Anda tidak akan kembali lagi.

-----------
Han: Mengapa hal buruk terjadi pada orang baik?

Ajahn Brahm: Karena itu bukanlah hal buruk. Misalnya Anda dalam perjalanan pulang dan menginjak kotoran anjing. Kotoran anjing yang kotor, lengket, dan bau di seluruh sepatu Anda. Ini seperti hal buruk yang menimpa banyak orang. Apa yang Anda lakukan? Jika Anda umat Buddha, jangan membersihkannya langsung. Anda bawa kotoran anjing itu, lalu gosok-gosokkan di bawah pohon mangga di kebun Anda. Setahun kemudian, mangga Anda akan lebih manis, sarinya lebih banyak dibanding sebelumnya. Saat Anda makan mangga itu, dengan jusnya mengaliri dagu Anda, ingatlah apa mangga itu, setahun yang lalu. Itu adalah kotoran anjing yang kini Anda makan, beralih wujud menjadi mangga yang manis. Begitulah bagaimana orang bajik menghadapi apa yang terjadi dalam kehidupan. Mereka menanamnya, menjadikannya pupuk untuk kebijaksanaan dan kewelasan. Ini hanya bisa terjadi pada orang baik yang tahu bagaimana mengalihkan hal buruk menjadi kebijaksanaan dan kewelasan.

-----------
Chia Yin: Mengapa kita selalu takut akan sesuatu yang belum terjadi? Apakah itu salah satu kotoran batin atau sebuah persepsi bawah-sadar?

Ajahn Brahm: Banyak manusia senang merasa takut. Mereka senang mendengar cerita hantu. Anda ingin mendengar cerita hantu? Saya sering memimpin upacara perkabungan di Australia. Ada orang yang telah bekerja di rumah duka seumur hidupnya. Di rumah duka, Anda bekerja mengurusi semua peti mati ini. Saya bertanya kepadanya, "Anda pernah melihat hantu?" “Ya”, jawabnya. "Jadi, apa cerita hantu paling menakutkan yang bisa Anda ceritakan kepada saya?" Di Australia, mereka punya mobil yang khusus untuk mengangkut peti mati. Namanya hearse. Kadang, ada banyak perkabungan dalam satu hari. Namun demi kepentingan keluarga yang berkabung, tiap perkabungan, mereka membersihkan mobil peti mati luar-dalam. Mereka menyewa satu orang, itu saja yang ia lakukan, membersihkan mobil peti mati. Ia baru saja selesai membersihkan bagian dalam. Ia menutup pintu dan jendela. Ia baru membersihkan bagian luar ketika sesuatu yang aneh terjadi. Dari dalam mobil muncul kabut. Kabut itu menyelimuti seluruh bagian dalam mobil. Dari jendela tampak kabut di dalam mobil. Lalu, muncul cap telapak tangan di seluruh jendela. Cap telapak manusia, atau mungkin bukan manusia. Ada sesuatu yang berusaha keluar. Seram sekali! Lalu, yang kabur justru pria yang semestinya membersihkan mobil. Jadi hati-hatilah, meski mereka seharusnya menaruh peti mati ke kuburan, kadang masih ada yang mau keluar dari sana. Anda ingin bekerja di tempat seperti itu? Itulah sebabnya mereka harus mengeluarkan uang begitu banyak dalam perkabungan, karena mereka membayar orang melakukan pekerjaan ini.

Orang senang ditakut-takuti, sekalipun saat tidak ada yang perlu dicemasi. Anda menemukan sesuatu untuk dicemasi. Saya pikir itu karena orang-orang takut dengan kedamaian. Saat kedamaian datang dalam kehidupan Anda, terlalu banyak di antara orang-orang malah menghancurkannya. Cobalah jika Anda bisa memahami sebabnya, mengapa kita senang merasa takut, ditakut-takuti.

Lalu, berapa banyak dari Anda yang menemui peramal nasib? B-O-D-O-H. Pernah, bertahun-tahun yang lalu, pada ulang tahun saya.... Sungguh sulit memberi kado bagi bhikkhu, kami tak menginginkan apa-apa. Maka ada orang yang punya ide sangat bagus, “Saya akan memberikan ramalan bintang untuk Ajahn pada hari ulang tahunnya!” Lalu, pada hari ulang tahun saya, ia berupaya dan mendapatkan ramalan bintang untuk setahun ini. Ia memperolehnya dari peramal yang sangat hebat, ini menghabiskan banyak uangnya. Ia bilang, "Ajahn Brahm, ini akan terjadi setahun ini. Siapa pun yang lahir tanggal ini, maka tahun ini adalah tahun yang amat sangat bagus untuk menjalin asmara.” Padahal saya ini bhikkhu. Setelah itu, saya tidak memercayai ramalan bintang. Buang-buang uang saja. Itulah sebabnya orang cemas. Mereka ketagihan pada kecemasan dan takut pada kedamaian.

-----------
Wenni Lee: Sabar itu memang tidak ada batasnya, tapi sampai pada titik apa kita boleh bersabar?

Ajahn Brahm: Ada dua jenis kesabaran. Yang pertama adalah menunggu sesuatu terjadi. Menunggu seseorang berubah. Menunggu sesuatu yang baik terjadi dalam hidup Anda. Saya menyebut itu menunggu pada masa depan. Ini sangat keliru, dungu, dan menyebabkan banyak penderitaan. Ini bukanlah yang orang sebut sebagai kesabaran. Ini tetap saja nafsu. Itu namanya menunggui sesuatu terjadi. Jenis menunggu yang lebih baik disebut menunggu pada momen kini. Siapa pun atau apa pun yang menyebabkan momen sulit bagi Anda, mungkin atasan Anda, mereka tidak ada di sini hari ini. Ini hari Minggu, Anda tidak masuk kerja, maka nikmatilah ini. Namun sebagian orang sedih, muram, meskipun mereka tidak akan menemui atasan mereka sampai besoknya. Mereka masih mengalami waktu yang tidak bahagia. Karena mereka terus menunggu pada masa depan alih-alih menunggu pada momen kini. Meskipun Anda sangat sakit, dalam derita hebat, sangatlah sulit menunggu pada masa depan, namun sangat mudah menunggu pada momen kini. Sama seperti ketika saya menandatangani buku, berfoto, menandatangani buku, berfoto, saya bisa melakukannya karena saya menunggu pada momen kini. Hanya ada satu foto, hanya ada satu buku untuk ditandatangani pada satu momen. Inilah yang disebut kesabaran.

-----------
Yuliana: Mengapa saya suka melihat wajah Ajahn tertawa di setiap poster dan buku?

Ajahn Brahm: Ketika Anda melihat seseorang bahagia, ini menyemangati Anda. Kebahagiaan itu menular, seperti flu burung, tetapi yang positif. Namun kemarahan dan sikap negatif juga bisa menular. Maka ketika seseorang sedang mengkritik, "Buat apa kamu melakukan itu?" "Kamu tak semestinya begitu!" "Jangan seperti itu!" "Aku boleh bicara kepada kamu sesukaku!" Ini akan makin dan makin buruk. Menular. Ini seperti ebola, hanya bedanya ini virus amarah. Amarah jauh lebih buruk dibanding ebola. Penangkal virus itu adalah ketika ada orang yang bahagia.

Bahkan di upacara perkabungan di Australia, saya menyampaikan lelucon. Namun saya tanya dulu ke orangnya sebelum meninggal, "Apa Anda senang jika saya mengucapkan lelucon saat

Sunday, May 1, 2016

Percakapan Seorang Sarjana dengan Seorang Bhikkhu.

 "Apa kunci kebahagiaan itu?"

Bhikkhu menjawab:

"Saat tersenyum, tersenyumlah.
Saat tertawa, tertawalah.
Saat tidur, tidurlah.
Saat makan, makanlah.
Saat sedih, menangislah.
Saat bersama dengan yg dicinta, sayangilah.
Saat bertemu musuhmu, maafkan dan maklumilah.
Saat berpisah, lepaskan dan relakanlah.
Saat emosi datang, menjauhlah dari siapapun.
Inilah kunci kebahagiaan."

Sarjana itu kembali bertanya, "semudah itu?"

Bhikkhu, "siapa bilang mudah?"
"Banyak yg senyum, tetapi penuh kepedihan.
Banyak yg tertawa, tetapi tertawa penuh keangkuhan.
Banyak yg makan, tetapi tidak merasakan apa yg dimakan, penuh kesibukan, sibuk bicara, dan lainnya.
Banyak yg bersama dengan yg disayang, tetapi tidak pernah mengutarakan rasa sayangnya. Sebaliknya banyak intrik dan permainan kata-kata yg menyebabkan pertikaian. Baik antar sesama suami isteri, orang tua dan anak, bahkan sesama saudara.

Saat bertemu musuh, semakin penuh rasa benci, dan ada keinginan untuk menghabiskannya, emosi yg tidak terkendali.

Saat berpisah, melekati dan memikirkan setiap saat, tak bisa melihat dunia lain yg penuh harapan untuknya. Matanya tertutup oleh kemelekatan yg hanya menghancurkan diri dan orang sekitarnya.

Saat emosi, hancurlah semua peluang utk mendapatkan kebahagiaan. Kebahagiaan dan rejeki yg ada pun segera menjauh."

Sarjana, "hmmmmmm..... Sederhana yg tidak sederhana, asal berlatih pasti bisa."

Bhikkhu, "sadhu...sadhu...sadhu"

Inpirasi dari kisah zen


Sumber : unknown
-Waspada Terhadap Konsep-


Sekarang kita sedang melihat kopi, "Wah, kalau sehari tidak minum kopi, tidak bisa sehat rasanya." Maka kita mengatakan kopi itu membawa kemelekatan, ketagihan. Tetapi, sesungguhnya tidak demikian, kopi itu tidak membawa kemelekatan, pikiran kitalah yang melekat pada kopi, karena kita menikmati kopi terus-menerus.
Mereka yang hanya minum kopi sebulan sekali tidak akan melekat pada kopi itu sedemikian kuat. Tidak ada kemelekatan dalam diri mereka yang minum kopi sekali-sekali saja. Kemelekatan itu muncul dari kenikmatan yang diulang-ulang, berkali-kali, tanpa kewaspadaan, tanpa kebijaksanaan. Kopi tidak pernah menarik-narik orang. Kopi adalah benda mati.

Emas, intan, uang, tidak pernah menarik-narik orang, itu benda mati, tetapi, konsep atau pandangan salah yang menunggangi kenikmatan itulah yang membuat kemelekatan.


Ada seorang yang miskin sekali, anaknya menangis minta dibelikan balon. Ibunya mengatakan "Kita ini tidak punya apa-apa, untuk makan saja sulit", tetapi karena cinta kepada anaknya yang semata wayang, penjual balon itu diundang dan ibu itu berkata "Anak saya ini ingin balon, tetapi saya tidak punya uang, apakah anda mau menerima bokor ini untuk ditukar dengan satu balon saja?" Penjual balon itu tidak tertarik, bokor sudah penyok seperti ini, kecil, kotor, hitam. Lalu bokor itu dikorek-korek, ternyata bokor itu terbuat dari emas. Penjual itu tertarik, tetapi dia jual mahal. Penjual balon itu mencemooh "Bokor seperti ini, kecil, penyok-penyok, untuk membeli balon satu pun tidak cukup." Padahal dia tahu kalau bokor itu terbuat dari emas.

Setelah penjual balon itu lewat, penjual balon kedua datang ke rumah si ibu miskin. Dia lalu diundang oleh ibu itu dan ditawari bokor itu juga. Penjual balon kedua tahu juga kalau bokor itu emas, lalu dia mengatakan "Ibu, bokor ini terbuat dari emas, mahal sekali harganya. Hidup ibu bisa baik kalau bokor ini dijual, tidak miskin seperti ini. Ini balonnya saya beri saja, tidak perlu membeli." Ibu itu sangat berterimakasih kepada penjual balon yang kedua.

Cerita belum selesai.
Karena sebetulnya ingin sekali memiliki bokor itu, penjual balon yang pertama tadi kembali menemui ibu itu lagi, tetapi penjual balon kedua sudah berlalu.
Dia berkata "Ya sudahlah, bokormu saya tukar dengan satu balon, biarpun tidak cukup harganya." Tetapi, ibu itu sekarang sudah tahu bahwa bokornya terbuat dari emas.

Mengapa pada awalnya penjual balon pertama tidak tertarik? Karena tidak ada konsep bahwa benda itu berharga. Tetapi, setelah dikorek-korek, kemudian tahu bahwa bokor itu terbuat dari emas, dan dia pernah tahu bahwa emas itu mahal. Mahal itulah konsep atau pandangan. Dia tahu betapa senangnya kalau punya emas. Kesenangan yang ditunggangi oleh konsep, tidak ada kebijaksanaan, tidak ada pengendalian diri, maka timbullah niat jahat untuk menipu ibu miskin itu.

Beberapa waktu lalu ketika ikan arwana masih banyak disukai, harga seekor ikan arwana sangat mahal. Tetapi orang desa yang tidak tahu tentang ikan arwana tidak akan mau beli meskipun murah. Dia pikir "Apakah ikan ini bisa dimakan? Kalau tidak bisa, buat apa dibeli?"
Orang desa itu tidak punya konsep apa-apa terhadap ikan arwana, tetapi orang kota punya konsep bahwa ikan arwana bisa membuat pemiliknya makmur. Dan makmur itu rasanya enak, lebih makmur lebih enak. Orang kota mempunyai sarana untuk membeli ikan yang mahal itu. Kenikmatan ditunggangi dengan pengertian yang salah, dibantu sarana yang cukup, maka jadilah dia mengeluarkan uang berjuta-juta untuk membeli seekor arwana.

Demikian juga iklan-iklan yang selalu membuat orang terangsang untuk membeli. Iklan-iklan itu menanamkan konsep bahwa barang yang diiklankan itu akan memberikan kenikmatan.
(Sri Pannavaro)
Cuek...!

Atas nama hukum kamma, seseorang bisa saja menjadi orang yang apatis, cuek, tidak peduli dan masa bodoh dengan orang sekitar. "Biarlah mereka menderita, itu khan sudah kamma mereka! Biarlah mereka berbuat jahat, nanti jera sendiri saat kammanya berbuah! Sampai....... Biarlah mereka para bhikkhu lepas jubah, itu khan sudah kammanya, kammanya memang hanya sampai di situ saja!

Dengan cara yang sama, atas nama pemahaman bahwa diri sendiri adalah pelindung bagi sendiri, seseorang bisa saja menjadi orang yang masa bodoh seperti di atas. "Biarlah mereka menderita, semuanya khan sudah tergantung pada diri sendiri! Biarlah mereka jatuh, untuk apa kita peduli? Bukankah semuanya tergantung pada diri sendiri?! Yang merasakan bahagia dan derita khan diri sendiri. Untuk apa ikut campur?!

Dulu saya pun sempat berpikir demikian. Tetapi, pandangan ini terpukul keras ketika suatu kali membaca pernyataan Sang Buddha yang mengatakan bahwa apabila di dalam komunitas (Sangha) orang-orangnya tidak saling menasehati, tidak saling mengingatkan untuk melakukan hal yang baik, komunitas tersebut tidak ada ubahnya seperti kumpulan domba.... Saya melihat bahwa masyarakat Buddhis yang terdiri dari perumahtangga dan pabbajita, juga merupakan komunitas yang seharusnya anggotanya saling membantu satu sama lain demi kemajuan ke arah yang baik.

Akhirnya terpikir bahwa sekarang saya mengenal ajaran Sang Buddha, menikmati ajaran Sang Buddha, mendapatkan  jalan hidup yang bermanfaat, karena Sang Buddha tidak cuek, tidak masa bodoh. Seandainya beliau adalah orang yang cuek bebek, masa bodoh, apatis, tidak peduli dengan makhluk lain, maka tentunya saat ini tidak ada Dhamma, tidak ada Sangha, dan tidak ada saya yang meskipun sedikit tetapi mengenal ajaran Beliau.

Saya pribadi tidak menganjurkan orang-orang untuk selalu mencampuri urusan orang lain, karena mencampuri urusan orang lain yang tidak tepat pada waktunya dan dilakukan dengan cara yang tidak bijak, justru menambah sebuah permasalahan menjadi bertambah runyam. Tetapi, ketidakpedulian terhadap lingkungan sekitar juga bukanlah ajaran Sang Buddha. Membantu apa yang baik, apa yang lebih bermanfaat, tentu merupakan hal yang baik, lebih baik ketimbang yang cuek bebek.

My homage to the Buddha.....!
(by Bhante Santacitto)

Friday, April 29, 2016

Kisah tentang Pangeran Siddharta yang meninggalkan kemewahan istana untuk kemudian menjadi pertapa di hutan sebelum akhirnya menjadi Buddha, terulang kembali dalam dunia modern. Lebih tepatnya terjadi di negeri jiran, Malaysia.

Adalah Ven. Siripanno yang lebih memilih menjadi bhikkhu ketimbang menerima warisan segunung uang dari ayahnya, Ananda Krishnan, orang terkaya ke-2 Asia Tenggara dan terkaya ke-89 dunia asal Malaysia. “Uang tidak bisa membeli kedamaian batin dan kebahagiaan sejati,” ujar Ven. Siripanno.

Ven. Siripanno adalah anak laki-laki satu-satunya Ananda Krishnan dari istri yang berasal dari Thailand. Ia memiliki dua adik perempuan. Sebagai satu-satunya anak laki-laki, Ven. Siripanno seharusnya adalah penerus kerajaan bisnis ayahnya.

Ananda Krishnan adalah pengusaha sukses keturunan Srilanka. Kerajaan bisnisnya diantaranya bergerak di bidang media (Astro), satelit (MEASAT), minyak bumi dan gas (Bumi Armada, Pexco), telekomunikasi (Maxis, Aircel), hingga perusahaan investasi dan properti. Menurut majalah Forbes, kekayaan Ananda Krishnan mencapai 9,6 miliar dollar AS atau sekitar 92,8 triliun rupiah!

Ananda Krishnan lahir dari keluarga Buddhis yang berimigrasi dari Srilanka. Walaupun memiliki kekayaan berlimpah, namun Ananda Krishnan tetap rendah hati. Ia juga dikenal sebagai filantropis, terutama dalam bidang pendidikan.

Puluhan tahun lalu, Ananda Krishnan kehilangan putranya. Ia kemudian mencari-carinya, dan pencariannya terhenti di sebuah monasteri di Thailand utara. Ia terkejut melihat putranya mengenakan jubah cokelat, berkepala plontos dengan sebuah mangkuk patha di tangan. Lalu Ananda Krishnan mengundang putranya yang telah jadi bhikkhu tersebut untuk makan di rumahnya.

Dengan ramah Ven. Siripanno menjawab, “Maaf, saya tidak bisa menerima undangan Anda. Seperti para bhikkhu lain, saya harus ber-pindapatta untuk mengumpulkan dana makanan.” Balasan Ananda Krishnan kemudian menjadi headline di berbagai media, “Dengan semua kekayaan yang saya miliki, saya bahkan tidak mampu memberi makan untuk putraku sendiri.”

Putranya kemudian tetap tinggal di monasteri di hutan Thailand, dan seperti para bhikkhu lain, kehidupannya juga bergantung pada sokongan umat.

Sebelum menjadi bhikkhu, Ven. Siripanno dibesarkan dan bersekolah di Inggris. Ia sangat cerdas dan menguasai 8 bahasa. Ia ditahbis saat usia 18 pada tahun 1989 di Wat Pah Nanachat, sebuah vihara hutan di Thailand utara yang didirikan oleh Ajahn Chah pada tahun 1975. Vihara tersebut dikepalai Ajahn Sumedho, seorang murid Ajahn Chah asal Amerika. Kebanyakan bhikkhu yang tinggal di situ adalah bhikkhu bule.

Ven. Siripanno kini menjadi kepala Wat Dao Dum Hermitage, sebuah vihara hutan di Thailand utara.

Apa yang membuat Ven. Siripanno yang kini berusia 40 tahun lebih memilih menjadi bhikkhu daripada menikmati kekayaan warisan ayahnya? “Hal paling berharga yang bisa kita lakukan dalam hidup adalah membuat pikiran menjadi damai,” ujar Ven. Siripanno suatu ketika. Dan ia menemukannya di dalam kesederhanaan hidup sebagai bhikkhu Sangha, bukan dalam tumpukan triliunan uang ayahnya.

May all beings be happy🙏🏻


sumber : unknown

Thursday, April 28, 2016

Rahasia kebahagiaan adalah mampu berkecukupan hati pada saat ini.
Mengerjakan sesuatu tidaklah berat, namun terus memikirkannya itu yang memberatkan suatu pekerjaan. Terkadang kita tidak bahagia dikarenakan berpikir terlalu banyak (thinking to much).

Tak perlu takut salah dalam mengambil keputusan, karena yang perlu diperhatikan juga adalah setelah keputusan itu diambil. Jika Anda memilih kiri, jalani dan jadikan itu bermanfaat dan sukses. Jika Anda pilih kanan, jalani dan jadikan itu bermanfaat dan sukses. Take action.

Jika kita bahagia, kita lebih berenergi dan sehat.

Apa arti 'penjara'? Terkadang kita memenjarakan diri kita sendiri. Segala hal yang tidak kita sukai adalah penjara. Contohnya. Seorang istri yang tidak menyukai suaminya. Maka, pernikahan jadi sebuah penjara. Suatu pekerjaan yang tidak kita sukai, maka pekerjaan itu adalah penjara bagi kita. Kemudian, tubuh ini menua dan sakit, kita tidak menyukainya, maka tubuh jadi suatu penjara. Perhatikanlah bahwa hidup kita dikendalikan oleh kondisi luar. Jika kondisi luar itu tidak sesuai dengan yang kita inginkan, maka kita terpenjara dan menderita. Lalu, bagaimana agar kita terbebas dari penjara-penjara dalam hidup kita ini? Yaitu dengan mengubah sikap kita melalui rasa berkecukupan. Contohnya, meskipun suami seperti ini, namun ia 'cukup' baik. Melalui rasa cukup, kita berhenti mencari-cari alasan yang membuat kita tidak puas, sehingga kita pun berdamai dengan diri sendiri dan orang lain. Batin pun sejuk.

Lanjut narasumber Master Guo Jun Fa Shi. Dengan resep kebahagiaan 'ACT'
Acceptance. Mampu menerima realita apa adanya.
Contentment. Punya hati yang berkecukupan (santacitta).
Transform, kita harus bisa berubah ke arah yang baik.

Sudah tau serakah dan benci itu tidak baik, tapi tetap saja dituruti. Oleh karena itu, mulai saat ini, praktikkan jalan yang benar, transform ke arah yang positif.

Selain itu, sertakan kesabaran dan tetap tersenyum. ☺😊

Talkshow Ajahn Brahm & Guo Jun Fa Shi.
Source : dapat share dari Lily
Demikian yang telah didengar, kurang lebih seperti ini. Dengan adanya tambahan sedikit, namun tidak berniat mengurangi esensinya. Luar biasa, super, kagum dan respek sehingga timbul niat berbagi. Sayang, jika Dharma yang telah didengar ini tidak dibagi ke yang lain.😇😊

Ceramah Dhamma Ajahn Suphol, Ajahn Brahm, dan Guo Jun Fa Shi
Minggu, 10 April 2016

Ajahn Suphol memberikan suatu kisah Jataka, dimana sang Bodhisatta dalam kehidupan lampaunya terlahir sebagai ketua kelompok burung. Kemudian, ia menemukan suatu ladang yang subur sebagai sumber makanan. Ia pun mengajak sekelompok kawanannya. Namun, saat terbang pulang kembali ke hutan, sang petani melihat, ia terbang belakangan dengan mulut yang penuh biji2an. Keesokan harinya tetap sama.

Sehingga suatu hari, sang petani berhasil menangkap sang ketua burung itu. Kemudian petani itu bertanya. Bodhisatta pun menjawab bahwa makanan itu ia bagi untuk orangtua. Selain itu, ia menaruh makanan di sangkar temannya yang lain. Intinya, Bodhisatta berbagi pada yang lain. Hal ini mencerminkan dalam kehidupan kita bahwa ketika memperoleh penghasilan, kita membaginya dalam 4 bagian.
1. Memberi pada Mama dan Papa. Meskipun, orangtua lebih banyak materi dibandingkan kita, namun hendaknya kita tetap memberi pada orangtua.
Kedua orangtua kita ini merupakan dewa tertinggi (brahma) di rumah kita. Karena kedua orangtua kita ini juga melambangkan sifat Brahma
a. metta, cinta kasih orangtua sungguh sangatlah besar. Ia mengharapkan anaknya senantiasa berbahagia.
b.  karuna, kita bisa melihat ketika kita sedang sakit, orangtua segera bertindak agar anaknya cepat sembuh dan terbebas dari penderitaan. Belas kasih yang besar.
c. Mudita, ketika kita bahagia dan sukses, orangtua pun turut berbahagia atas keberhasilan kita.
d. Upekkha, orangtua terus menjaga dan memantau perkembangan kita.
*sebagai tambahan dari saya, ketika ada anak yang bersikap tidak hormat, namun tetap saja orangtua mengasihi dan tetap menganggapnya sebagai anaknya.

Kemudian, poin selanjutnya.
2. Menyisihkan untuk kebutuhan keluarga.
3. Berbagi pada teman, tetangga, dan yang membutuhkan. Kita makhluk sosial. Oleh karena itu, kita menjalin keakraban dan persahabatan dengan teman yang baik.
4. Simpan untuk kebutuhan sendiri. Sewaktu-waktu mungkin ada suatu keperluan yang mendadak dan kita membutuhkan dana. Oleh karena itu, perlu adanya dana simpanan.

Kemudian Talkshow Ajahn Brahm dan Master Guo Jun di Mal Taman Palem.

Bahagia bisa ikut dengar ceramah hari ini dari Guru Besar. Banyak inspirasi2 yg didapat.

Rahasia kebahagiaan adalah mampu berkecukupan hati pada saat ini.
Mengerjakan sesuatu tidaklah berat, namun terus memikirkannya itu yang memberatkan suatu pekerjaan. Terkadang kita tidak bahagia dikarenakan berpikir terlalu banyak (thinking to much).

Tak perlu takut salah dalam mengambil keputusan, karena yang perlu diperhatikan juga adalah setelah keputusan itu diambil. Jika Anda memilih kiri, jalani dan jadikan itu bermanfaat dan sukses. Jika Anda pilih kanan, jalani dan jadikan itu bermanfaat dan sukses. Take action.

Jika kita bahagia, kita lebih berenergi dan sehat.

Apa arti 'penjara'? Terkadang kita memenjarakan diri kita sendiri. Segala hal yang tidak kita sukai adalah penjara. Contohnya. Seorang istri yang tidak menyukai suaminya. Maka, pernikahan jadi sebuah penjara. Suatu pekerjaan yang tidak kita sukai, maka pekerjaan itu adalah penjara bagi kita. Kemudian, tubuh ini menua dan sakit, kita tidak menyukainya, maka tubuh jadi suatu penjara. Perhatikanlah bahwa hidup kita dikendalikan oleh kondisi luar. Jika kondisi luar itu tidak sesuai dengan yang kita inginkan, maka kita terpenjara dan menderita. Lalu, bagaimana agar kita terbebas dari penjara-penjara dalam hidup kita ini? Yaitu dengan mengubah sikap kita melalui rasa berkecukupan. Contohnya, meskipun suami seperti ini, namun ia 'cukup' baik. Melalui rasa cukup, kita berhenti mencari-cari alasan yang membuat kita tidak puas, sehingga kita pun berdamai dengan diri sendiri dan orang lain. Batin pun sejuk.

Lanjut narasumber Master Guo Jun Fa Shi. Dengan resep kebahagiaan 'ACT'
Acceptance. Mampu menerima realita apa adanya.
Contentment. Punya hati yang berkecukupan (santacitta).
Transform, kita harus bisa berubah ke arah yang baik.
Sudah tau serakah dan benci itu tidak baik, tapi tetap saja dituruti. Oleh karena itu, mulai saat ini, praktikkan jalan yang benar, transform ke arah yang positif.

Selain itu, sifat kita maunya serba instan. Spt mie instan, kita menyukainya, padahal itu kurang baik. Maka dari itu, pentingnya kesabaran dalam hidup ini. Sabar dalam latihan, sabar dalam segala aktivitas yg kita lakukan.

Dan ingatlah tersenyum. :D

Lihatlah rupang Buddha yang senyum dan wajah Ajahn Brahm yang juga tersenyum.

Wish you all be happy.

Good night.

Indahnya mendengarkan Dhamma dan indahnya berbagi Dhamma

Sadhu... sadhu... sadhu...
😇😊🙏



Sumber : copas
(*) Harimau yang Marah (*)

Hati kita ini bagaikan seekor harimau marah yang berada di dalam sangkar.  Jika hewan itu tidak berhasil mendapatkan apa yang diinginkannya,  ia akan mengaum-aum dan mengganggu.  Ia harus dijinakkan dengan meditasi.
Kekotoran batin kita juga bagaikan harimau yang sedang marah.  Harimau ini harus kita tempatkan di dalam sangkar yang terbuat dari kesadaran,  energi,  kesabaran,  dan keteguhan hati.  Kita kemudian tidak memberinya makanan sebagaimana biasa diinginkannya dan hewan itu pun akan perlahan-lahan mati dalam kelaparan.

~Y.M. Ajahn Chah~

Happy Uposatha Day, marilah kita  berAtthasila dan  berlatih Meditasi  dihari Uposatha ini. Semoga saya, teman-teman dan keluarga semuanya maju dalam Dhamma. Semoga semua mahluk berbahagia. O:)
Sadhu, Sadhu, Sadhu.
_/\_


         ,@@@,
.    (((((())))))
     ♣̮̮((Ơ̴̴̴͡  ˛̮  Ơ̴̴̴͡))♣̮̮
   (@ _)>(")<(_ @)
May All  be well, happy, ªήϑ peacefull
.  .  .  .  .


Sumber : copas

Wednesday, April 27, 2016

Mengalah untuk menang

Seorang biksu pulang dari memotong kayu di gunung, diperjalanan pulang berjumpa seorang pemuda bernama Alan yg baru saja menangkap seekor kupu di genggamannya..

Pemuda ini menantang biksu: "Hei biksu, gimana kalau kita bertaruh ?"

"Gimana bertaruhnya ?" tanya sang biksu.

"Coba tebak kupu dalam genggamanku ini hidup atau mati ? Kalau kamu kalah, sepikul kayu itu jadi milik saya." jawab Alan sang pemuda..

Sang biksu setuju, lalu menebak, "Kupu2 dalam genggamanmu itu mati."

Alan Sang pemuda ketawa ngakak, "kamu salah." sambil membuka genggamnya, kupu2 itu pun terbang pergi.

Sang biksu berkata, "baiklah, kayu ini milikmu." Setelah itu sang biksu menaruh pikulan kayunya dan pergi dengan gembira.

Alan tidak mengerti kenapa sang biksu begitu gembira, tapi mendapat sepikul kayu bakar, dia dengan gembira juga membawanya pulang.

Ayah si pemuda bertanya soal asal muasal sepikul kayu itu. Alan bercerita sesungguhnya. Sang ayah marah setelah mendengar cerita si anak, dan berkata, "Kamu mengira kamu betul menang ? Kamu kalah tapi tidak mengetahui bagaimana kalahnya."

Si anak bingung 360 keliling, Sang ayah memerintahkan anaknya memikul kayunya, berdua mereka mengantarkan kayu itu ke vihara biksu itu dan minta maaf kepada sang biksu..
Si biksu hanya mengangguk, tersenyum tanpa bilang apa2.

Dalam perjalanan pulang, Alan bertanya soal ketidak mengertiannya.
Sang ayah menarik napas panjang, menerangkan, "Biksu itu bilang kalau kupu itu sudah mati, baru kamu mau melepaskan kupu itu, sehingga kamu menang; kalau biksu itu bilang kupunya hidup, kamu pasti meremas kupu dalam genggamanmu hinga mati, juga kamu yg menang. Kamu mengira biksu itu tidak mengetahui kelicikanmu.?? Beliau kalah sepikul kayu, tapi memenangkan KASIH.

"Cinta kasih yg murni hanya memikirkan kebahagiaan semua mahkluk tampa pamrih, tapi yg Egois hanya memiikirkan apa yg aku dapatkan.

Semoga Semua makhluk Berbahagia


Sumber : copas
Kisah uang 57 sen :

"REJEKI MENGALIR DARI HAL YANG KECIL"

Seorang gadis cilik yang miskin dilarang masuk ke sekolah minggu, "Tempat nya sudah penuh," kata sang pengurus vihara, sambil melirik pakaian kumal si gadis.

Si gadis menunduk lesu, jongkok menunggu di depan pintu.

Kebetulan lewat seorang pembimbing muda, ia menyapa si gadis cilik: "Kenapa tidak masuk?

Si gadis menjawab lirih, katanya tempat nya sudah penuh.

Si pembimbing muda menuntun si gadis penuh kasih, masuk ke dalam kelas, mencari bangku kosong di depan.

Si gadis disuruh duduk.

Semenjak itu mereka berteman baik.

Pembimbing muda membimbing si gadis cilik, menemukan kedamaian di dalam vihara.

2 tahun berlalu, karena sakit menahun, si gadis meninggal dunia.

Dengan penuh kesedihan pembimbing muda ke rumah si gadis, membantu membereskan barang2 si gadis yang tidak seberapa.

Di dalam sebuah laci lemari yang usang, ditemukan sebuah saputangan kumal.

Terbungkus di dalam nya, sepucuk surat yang ditulis tangan & segenggam uang logam 57sen, hasil tabungan nya selama 2 tahun lebih.

Isi surat nya demikian: "...saya ingin menyumbangkan uang ini untuk membangun vihara sehingga bisa menampung lebih banyak anak2 seperti saya....".

Si pembimbing muda tak kuasa menahan airmata yang mengambang.

Airmata menetes deras membasahi surat.

Sebuah suratkabar lokal mendengar kisah ini.

Ditulis & diterbitkan.

Sumbangan mengalir deras, berupa sumbangan Tanah, Uang & Bangunan, serta tenaga sukarela.

Kini berdiri megah mengelilingi vihara, sebuah sekolah baru, rumah sakit & vihara lebih besar.

Uang 57 sen mungkin tak seberapa, mungkin tak kan berarti apa2, namun telah menggerakkan sebuah kemanusiaan.

Jika kita menjaga hal yang kecil, rejeki akan mengalir.

Jangan menyepelekan hal2 yang kecil apalagi menghina nya.., krn

HAL YANG KECIL BISA MENGUBAH MENJADI SESUATU YANG BESAR !


semoga kita telah melakukan 1 kebaikan kecil hari ini


Sumber : copas

Sunday, April 24, 2016


Kabar gembira 🙏

Umat Buddha Indonesia akan bergembira menyambut Trisuci Waisak Tahun ini, krn akan kehadiran artis fenomenal pelantun "The Chant Of Metta" ( https://youtu.be/O3wBkfi64w0 ) Sister Imee Ooi beserta crew nya yg berjumlah lebih dari 50 org.

Dengarkan langsung secara "live" Sutra, Gatha & Mantra yg dapat menembus relung hati khas Imee Ooi selama ini, saksikan juga pertunjukkan panggung yg memukau dengan visual effect & aksi teatrikal kelas dunia pertama di Indonesia >> (contoh klip acara di Malaysia & Singapore https://youtu.be/ThnA3K_pSCQ )

#SoundOfWisdomIndonesia
Persembahan Waisak Bhakti & Berkah Untuk Semua. Diselenggarakan oleh SIDDHI dan NAMASTE serta Dirjen Bimas Buddha Kementerian Agama RI juga didukung oleh 50 lebih organisasi Buddhis di tanah air lintas sekte.

Terbuka kesempatan menanam karma baik bersama2 dengan berpartisipasi sebagai:
1. Tim Relawan
2. Sponsor
3. Donasi
4. Organisasi Pendukung (Vihara, Sekolah, Buddhis center, Perkumpulan, dll).

Yukk book tgl nya dan ajak seluruh anggota keluarga Anda utk hadir pada:
● Sabtu, 4 Juni 2016 di JW MARRIOTT Hotel, MEDAN.
● Minggu, 12 Juni 2016 di Jakarta Convention Center, Senayan JAKARTA.

Informasi Acara, Donasi & Sponsorship, hubungi:
1. Hartawan 0816765857
2. Okiem 08129968695
3. Dewi 088808313134
4. Elwiana 08121288122
5. Kevin Wu 081510277322

www.SoundOfWisdomIndonesia.com
#SoundOfWisdomIndonesia
#ImeeOoi
Instagram: SoundOfWisdomIndonesia

NB: bantu sebarluaskan Kabar Gembira ini ya Prenn... Semoga Anda bertambah bahagia, bijaksana, sejahtera. Sadhu3


########$$$$######


Teman-teman yang berbahagia.
So happy to welcome penyanyi Metta Chanting, Imee Ooi dan teamnya pada Konser Persembahan "Waisak Sound of Wisdom".
yang akan diselenggarakan:
Tempat  : Jakarta Convention Center
Tanggal   : 12 Juni 2016
Waktu    : 15.30
Bekerja sama dengan lebih dari 50 institusi, Organisasi, dan Vihara

Info donasi tanda masuk bisa menghubungi:
Metta : +6221 566 6168, 0857 6867 5517
Rika : +628128820 3420
Lidya : +6281978 56651
Lie fung : +6221 5660510, +6287878758116

Donasi tiket pelajar @ Rp. 80.000,-
Diamond : Rp. 1.000.000,-
Platinum : Rp.   800.000,-
Gold         : Rp.   500.000,-
Silver       : Rp.   300.000,-
Silver tribune: Rp 200.000,-
Tribune       : Rp. 100.000,-

Semoga acara ini dapat menjadi hadiah terindah, salah satu pintu Dharma bagi keluarga, orang tua, saudara, generasi muda Buddhis dan kita semua.
Sukhi hotu. Semoga berbahagia. Tolong Bantu sebarkan info berharga ini ya. Be happy 😊.


Sumber : unknown

Saturday, April 16, 2016

Sothi hotu,Namo Buddhaya.

Tak terasa Hari Raya Waisak sudah semakin dekat. Spanduk ajakan Pindapata Gema Waisak Sangha Theravada Indonesia (STI) telah bertebaran dimana-mana diantaranya Jakarta, Tangerang, Bekasi,Bogor, Cikarang, Serang dan kota-kota lannya sebagai simbolik semarak Waisak dan denyut Buddhisme di masyarakat.

Ajak sanak saudara, keluarga, sahabat dan semua orang untuk bersama-sama menanam kebajikan.

Jangan lupa hadir juga ya pada rangkaian Acara Gema Waisak STI sebagai berikut:
-Kamis 21 Apr s/d Sabtu 23 Apr '16
Pembacaan Paritta dan Sutta sebanyak 108 X bersama Bhikkhu Sangha di Vihara Saddhapala, Jln. Pakis Raya No. 19 A, Rawa buaya, Bojong
Indah Cengkareng, Jakarta Barat (informasi dan
pendaftaran hub. Romo Sumedho 087788191630)

-Sabtu, 23 April 2016
Pembacaan Paritta dan Sutta,serta Acara Ruwatan
Keberkahan oleh Bhikkhu Sangha di Kota Tua
Taman Fatahillah Jakarta Barat pkl. 16:30 Persyaratandan pendaftaran peserta silakan hub. Romo Wartono 08158906202(peserta Ruwatan terbatas HANYA 108 Keluarga).
*Doa Keselamatan Bangsa oleh Lintas Agama, pkl 19:00
*Pagelaran Wayang Kulit, pkl. 21:00

-Minggu, 24 April 2016
Pindapata ke 9, di Kota Tua Taman Fatahillah, Jakarta Barat pkl. 06:00 s/d 11:00
*Donor Darah, pkl. 08:00(tersedia 200 kantong
darah) informasi dapat hub:Ibu Yayah Suharlim
081314234618/087771545466
*Baksos, Pengobatan umum dan gigi serta
potong rambut,pkl. 09:00 s/d 14:00

-Sabtu, 30 April 2016
Bakti sosial, pengobatan umum, gigi, dan gunting rambut bekerja sama Kopassus di GOR Kalisari.
Jl. Kalisari raya 3. Kel.Kalisari, Kec.Ps.Rebo
Jakarta Timur

Mari bersama-sama kita Gemakan Waisak tahun ini.

Semoga berkah Waisak senantiasa menyertai kita semua.

Sadhu sadhu sadhu

Link Facebook :
https://mobile.facebook.com/story.php?story_fbid=1085113938226402&id=1073465182724611&refid=7&_ft_=qid.6273761160344859447%3Amf_story_key.6774922406889785960&__tn__=%2As
IG: @gemawaisaksti

Mohon bantuan sebarkan ke teman-teman se-Dharma sekalian.
Terima kasih.

Saturday, April 9, 2016

[Besok!]

Semua orang ingin bahagia. Tetapi hanya sedikit orang yg tau caranya. Ternyata bahagia sejati didapat melalui melaksanakan Samadhi/ meditasi. Bahagia didapat bukan dgn pemenuhan kebutuhan jasmani atau memiliki kemewahan materi, atau menyerahkan diri kepada Dewa2/ Maha pencipta.

Hadirilah dan dengarkan uraian selengkapnya pada Dhammatalk "Samadhi Menghasilkan Kebahagiaan Sejati" oleh YM Ajahn Suphol Khantipalo

Rabu, 13 April 2016
Pukul 18.30 - selesai
Ruang Training lantai 7 tower 2 Apartemen Taman Anggrek.

Disediakan makan malam vegetarian.
Dapat dihadiri tanpa menggunakan tiket/undangan (FREE of Charge).
Tidak perlu mendaftar.

Profile singkat Ajahn Suphol Khantipalo :

Beliau adalah murid dari Lungpo Viriyang Sirintaro, dimana Lungpo Viriyang adalah teman seperguruan Ajahn Chah dan Lungta Maha Bowa, yang sama-sama merupakan murid dari Ajahn Man.

Beliau yang sekarang berusia 57 tahun, ditahbis menjadi Bhikkhu sejak umur 21 tahun di Wat Dhammamongkol, Bangkok, Thailand.

Beliau mendapatkan gelar S1 di Thailand, S2 di India, serta S3 di India dalam bidang Samadhi dan Meditasi. Pada saat ini, Beliau menjabat sebagai Direktur Umum di Wat Dhammamongkol, Direktur dan guru serta instruktur di Will Power Institution, dan asisten utama di Wat Dhammamongkol.

Untuk mengakses lokasi  kebaktian:
1. Dari Mall, menuju Fitness First naik 2 lantai.
2. Dari lift tekan L6, menuju tower 2 selanjutnya naik 1 lantai.
3.  Parkir menuju Parkir Kondominium Lantai 7 (akses dari pintu masuk sebelum Central Park). Pintu masuk Ruang Training ada di tower 2.

Info :
Pin BB 32667661
TELP 0888 0854 3346

Saturday, April 2, 2016

Sahabat Dhamma / kalyanamitta yang Berbahagia,
Sukhi hotu, Namo Buddhaya

Mari kita Gemakan Waisak 2560 BE / 2016 menjadi lebih semarak dan bergema.
Yuuk kita menjadi pelaku kebajikan dalam kegiatan Gema Waisak, ikuti rangkaian acaranya :

Minggu, 10 April 2016
🌻Penanaman 108 Pohon Bodhi
   Lokasi di jalur hijau Jln. Daan
   Mogot Jak Bar (sekitar halte
   busway Green Garden).
   pkl. 06:00 - 09:00

Kamis 21 Apr s/d Sabtu 23 Apr '16
🌻Pembacaan Paritta dan Sutta
   sebanyak 108 X bersama
   Bhikkhu Sangha di Vihara
   Saddhapala, Jln. Pakis Raya
   No. 19 A, Rawa buaya, Bojong
   Indah Cengkareng, Jakarta
   Barat (informasi dan
   pendaftaran hub. Romo
   Sumedho 087788191630)

Sabtu, 23 April 2016
🌻Pembacaan Paritta dan Sutta,
   serta Acara Ruwatan
   Keberkahan oleh
   Bhikkhu Sangha di Kota Tua
   Taman Fatahillah Jakarta
   Barat pkl. 16:30 Persyaratan
   dan pendaftaran peserta
   silakan hub. Romo Wartono
   08158906202
  (peserta Ruwatan terbatas
   HANYA 108 Keluarga).
🌻Doa Keselamatan Bangsa oleh
   Lintas Agama, pkl 19:00
🌻Pagelaran Wayang Kulit,   pkl.   21:00

Minggu, 24 April 2016
🌻Pindapata ke 9, di Kota Tua
  Taman Fatahillah, Jakarta
   Barat pkl. 06:00 s/d 11:00
🌻Donor Darah, pkl. 08:00
  (tersedia 200 kantong
  darah)
 informasi dapat hub:
 Ibu Yayah Suharlim
 081314234618/087771545466
🌻Baksos, Pengobatan
   umum dan gigi serta
   potong rambut,
   pkl. 09:00 s/d 14:00

Sabtu, 30 April 2016
🌻Bakti sosial, pengobatan umum, gigi, dan gunting rambut bekerja sama Kopassus di GOR Kalisari.
Jl.Kalisari raya 3.Kel.Kalisari, Kec.Ps.Rebo
Jakarta Timur

Lahan Kebajikan telah terbentang luas...ayoooo manfaatkan dan kita sebarkan benih-benih kebajikan dengan turut  menggemakan Waisak serta menjadi pelaku kebajikan
👍 bantu sebarkan kepada para sahabat, keluarga dan semua khalayak....agar WAISAK 2016 lebih BERGEMA!!!
"semoga semua mahluk hidup berbahagia"


Sumber : copas
Cheng Beng
Penghormatan Kepada Leluhur
5 April 2015


Ayah dan ibu dilambangkan
sebagai dua Buddha dalam keluarga.
Dari semua kebaikan,
kebaikan orangtua adalah kebaikan yang mulia.
Sesungguhnya ada dua Buddha
dalam setiap keluarga,
namun sangat disayangkan
belum banyak yang mengerti akan hal ini.
Mereka tidak meminta emas ataupun permata,
juga tak perlu dipuja dengan cendana.
Digambarkan bahwa kasih anak
diumpamakan seperti seinci rumput.
Adapun kasih orangtua bak cahaya mentari
yang terus menyinari bumi.
Maka sebagai seorang anak sudah sepantasnyalah sedapat mungkin berbakti kepada orangtua
selagi mereka masih ada
dan melakukan pelimpahan jasa
setelah mereka meninggal dunia

Sebagai wujud terimakasih dan rasa bakti terhadap orang tua dan para leluhur kita yang telah meninggal dunia, Wihara Ekayana mendundang para sahabat, untuk bersama sama mengikuti upacara Cheng Beng dan melakukan pelimpahan jasa agar para leluhur dapat terlahir di alam yang berbahagia:
Selasa, 5 April 2016
09.00-10.30 Wib:
San She Si Nien I
10.45-11.30 Wib :
Sang Kung
13.00-14.00 Wib :
San She Si Nien II
14.30-16.30 Wib :
San She Si Nien III & Mong San She She

Sebagai informasi tambahan formulir penulisan nama leluhur dapat diperoleh di Resepsionis Wihara Ekayana Arama


Persembahan Penuh Kasih
Wihara Ekayana  Arama
Jalan Mangga 2 No. 8 Duri Kepa
Green Ville Tanjung Duren Barat
Jakarta Barat 11510
Telp : 021-5687921/22
Fax : 021-5687923
BB 25ACDEA1

Tuesday, March 8, 2016


Fwd info :

Teman-teman, kalau ada terima sms atau wa atau blast minta dana makanan untuk anak asuh almarhum Pak Krishnanda, berita itu tidak dapat dipertanggungjawabkan. Untuk konfirmasi dapat menghubungi Pak Surono, Bendahara Lembaga Dharma Pembangunan 0877-8153-0099.

-o0o-

Fwd info :

 teman2, ini saya mau menginformasikan kesempatan untuk berdana.

Sekarang ada anak2 (SMU kelas 1-3) di Yayasan TriRatna asuhan Alm. Bapak Krisnanda Wijaya Mukti yang baru saja meninggal, dimana sangat membutuhkan bantuan berupa kebutuhan sehari2 seperti Indomie, makanan kering/sayuran untuk kebutuhan makan sehari2, telur, minyak sayur, garam, susu, pisau, talenan, sapu, pel, odol, shampoo, sabun cuci/mandi, pembersih lantai, pembalut wanita, dll.
 Anak2 tsb ditampung di Asrama sekolah Tri Ratna.

Teman2 bisa langsung kesana untuk mengirim dana tersebut ke alamat Jl. Kerajinan dalam, kelurahan Keagungan, kecamatan Taman sari, Jakarta Barat RT.09 RW.09 No.16 (tepat diseberang Indomaret).

Mereka sekarang total ada 35 orang, 22 perempuan dan 13 laki-laki. Mereka disini sambil sekolah Buddhist dan selama ini yg mengurus adalah Alm. Bapak Krisnanda sehingga semenjak beliau meninggal, mereka kesulitan dalam memenuhi kebutuhan hidup sehari2nya.

Mohon bantuan teman2 dapat meneruskan informasi ini atau langsung ketempat bersangkutan.

Semoga semua kebajikan ini menambah timbunan parami kita dan bisa membawa kita menuju Nibbana, sadhu sadhu sadhu🙏🏻


http://sekolahtriratna.com/

Sunday, January 31, 2016

STOP FANGSHEN PALSU


STOP FANGSHEN PALSU

Membebaskan Makhluk Hidup...
Bukan Dengan Memenjarakan
Mereka Dalam Sangkar Mewah

Menolong Makhluk Hidup...
Bukan Dengan Memberi Makan
Yang DiLetakkan di Mata Kail.

KEBAIKAN Seperti Apa Jika Kita
Ikut Penyiksaan & Pembantaian
Walau itu Berkedok Welas Asih


Fangshen atau melepas makhluk hidup di alam bebas atau di habitatnya adalah suatu budaya yang sangat lazim kita jumpai di wihara atau kelenteng. Praktek ini dilakukan oleh kalangan Buddhis atau Tionghoa pada umumnya.

Motivasi melakukan Fangshen berbeda bagi tiap individu, tapi intinya adalah tindakan nyata perwujudan pikiran welas asih (karuna citta) dan untuk menanam karma baik yang diharap dapat membuahkan kebaikan, seperti terbebas dari masalah yang membelit, sembuh dari penyakit akut, memberi ketentraman atau hidup sehat dan panjang umur.

"Tujuan Fangshen adalah untuk menolong makhluk hidup dari siksaan atau ancaman kematian. BUKAN justru membuat makhluk yang bebas justru SENGAJA DITANGKAP untuk MEMENUHI KEBUTUHAN Bisnis Fangshen."

Budaya spiritual ini kerap dilakukan dalam upacara di hari tertentu hingga kebiasaan setiap waktu. Untuk memenuhi kebutuhan tradisi Fangshen, sering kita melihat penjual burung yang mangkal di depan wihara atau kelenteng.

Jika kita coba mencari jalur pasokan penjual burung depan wihara & kelenteng, sebenarnya burung-burung itu sengaja ditangkap untuk memenuhi kebutuhan "BISNIS FANGSHEN". Semakin laris, semakin penjual burung itu akan order lebih banyak lagi burung di alam bebas kepada penangkap burung.

Pernahkah kita bayangkan bahwa penangkapan burung di alam bebas, ada burung yang tersiksa, mati, atau mungkin saja burung itu memiliki anak yang harus diberi makan harus mati karena kehilangan induk.

Cobalah renungkan, KEBAIKAN seperti apa JIKA KITA (secara tidak langsung) IKUT MENYUBURKAN "PENYIKSAAN dan PEMBANTAIAN" BERKEDOK WELAS ASIH?

Ada cara yang lebih bijaksana untuk melakukan Fangshen. Pergi ke penjual atau warung pecel lele atau jika tinggal di daerah pantai yang ada hutan mangrove, pergi ke pasar ikan, beli kepiting. Jika punya kebun yang luas dan finansial yang cukup, bisa membeli burung puyuh, ayam, bebek, kambing, sapi yang dijual untuk dipotong. Lepaskan agar hewan itu terbebas dari pembunuhan. Hewan-hewan itu sudah pasti di gerbang kematian, dijual untuk dipotong dan disantap pembelinya.

Fangshen dengan menolong menyelamatkan makhluk hidup yang sudah di gerbang kematian itu adalah cara Fangshen yang benar, bermanfaat dan memberi hasil karma baik yang lebih besar.

Atas dasar welasasih, STOP membeli burung yang dijual atas order ke penangkap burung demi memenuhi permintaan pasar Fangshen. Jika penjual burung depan wihara & kelenteng tidak laku, mereka pasti akan stop menangkap burung lagi. Mereka akan beralih profesi. Jika masih ada pembeli maka selalu ada penjual.

Dengan tidak membeli kita tidak berpartisipasi, melainkan memutus mata rantai penyiksaan dan pembunuhan makhluk hidup yang bebas berkedok Fangshen. Stop 'demand/permintaan' maka akan stop 'supply/pasokan'. Itu satu-satunya jalan keluar.



Cinta Kasih ku kepada makhluk tanpa kaki,
Cinta Kasih ku kepada makhluk berkaki dua,
Cinta Kasih ku kepada makhluk berkaki empat,
Cinta Kasih ku kepada makhluk berkaki banyak.

Semoga semua makhluk hidup,
Yang telah maupun yang belum lahir,
Semoga semua merasakan kebahagiaan,
Semoga semua terbebas dari penderitaan.

☆ Buddha Gotama
Angguttara Nikaya ll, 72


Sumber : unknown

Saturday, January 9, 2016

berdana jubah tetapi tidak dapat digunakan sebagai jubah


"Sudah Menjadi Rahasia Umum dan Masalah Yang Harus Diselesaikan Bersama".

Dear upasaka dan upasika yg berbahagia,
Mungkin anda bertanya-tanya tentang foto-foto jubah-jubah yang saya upload ini.

Ya, inilah foto jubah-jubah yang sudah menjadi rahasia umum, bahwa jubah-jubah ini tidak bisa digunakan karena ukuran, jahitan, warna, dll nya yang menyebabkan jubah-jubah ini tidak digunakan oleh para bhikkhu sehingga menjadi penumpukan-penumpukan di gudang, dan kadang-kadang karena sayang kalau disia-siakan maka jubah-jubah yang tidak bisa digunakan sebagai jubah tersebut dirombak menjadi seprei, taplak meja, dll.

Sayang kan, anda berdana jubah tetapi tidak dapat digunakan sebagai jubah!!.

Nah, jika Bhikkhu harus menerima dana jubah-jubah yang tidak bisa dipakai ini, dan harus ditumpuk lagi di gudang Vihara/Cetiya, pertanyaannya adalah, "HARUS BERAPA BANYAK SETIAP VIHARA/CETIYA MENYEDIAKAN GUDANG UNTUK MENAMPUNG JUBAH-JUBAH YANG TIDAK BISA DIPAKAI INI?????

Sungguh Ironis bukan???? ini harus diselesaikan bersama.

Saran saya adalah:
1. Berdana jangan cuma asal berdana, berdanalah barang-barang kebutuhan Bhikkhu/Vihara yang memang benar-benar bisa digunakan, jadi dana tersebut tepat sasaran dan tepat penggunaannya, dan tidak menyebabkan masalah dikemudian hari bagi si penerima dana.
2. Jika ingin berdana jubah pastikan bahwa jubah-jubah tersebut memang bisa digunakan oleh para Bhikkhu sehingga tidak terjadi lagi penumpukan-penumpukan jubah karena jubah-jubah tersebut tidak bisa dipakai. Pastikan itu jubah bukan bahan yang belum dijahit. Harus dipastikan walaupun jubah-jubah tersebut dijual di bursa-bursa di Vihara.

Jadi melalui informasi ini, melalui foto-foto dan tulisan ini, kedepan atau di masa mendatang dana-dana dari dana jubah-jubah ini dapat digunakan seperti harapan si pendana, agar jubah-jubah tersebut bisa digunakan sebagai jubah untuk para Bhikkhu, sehingga nantinya juga (di masa mendatang), si pendana akan mendapatkan hasil-hasil yang maksimal dari dana tersebut.

Semoga dengan tulisan ini, anda yang memproduksi jubah-jubah yang tidak layak ini, jika ingin tetap memproduksi, produksilah bukan karena hanya mencari untung semata, lihatlah perbuatan anda menyebabkan masalah di Vihara/Cetya karena penumpukan jubah-jubah yang tidak layak pakai tersebut. Produksilah dengan ukuran, warna, dan jahitan yang benar dan bahan yang enak dipakai seperti anda tentunya ingin nyaman menggunakan baju yang anda pakai.

Demikianlah tulisan ini, semoga dapat bermanfaat bagi kita semua.
Semoga kita dapat terus maju dalam Dhamma.
Semoga semua mahkluk berbahagia.
Sadhu...



Sumber : https://www.facebook.com/Shin.U.Thunanda/posts/1137387906286338?__mref=message

Wednesday, December 2, 2015

Berlayar bersama Sang Waktu



Saat ini ada karena masa lalu... Tindakan kita di saat ini akan menciptakan masa depan...

Kita bisa mengulang peristiwa yang terjadi di masa lalu, namun kita tidak bisa mengulang waktu yang telah lewat. Bagaikan air pegunungan yang mengalir sampai ke lautan tak bisa balik ke atas. Waktu terus berputar tanpa henti, maka hargai dan manfaatkan sang WAKTU dengan baik. Hargai orang-orang dalam hidupmu, perlakukan mereka dengan baik, karena orang yang TERPENTING adalah orang yang berada bersamamu di SAAT INI.

Masa lalu telah terjadi, kita sudah tidak ada di sana, masa lalu hanya ada dalam ingatan. Jadikan masa lalu sebagai pelajaran agar kita mampu bertindak lebih baik di SAAT INI. Begitupula masa depan belum terjadi, lagi-lagi dia hanya ada dalam benak kita. Jadikan itu sebagai motivasi untuk membangun masa depan cerah melalui tindakan kita di SAAT INI juga. Oleh sebab itu, hiduplah di saat ini, karena saat ini adalah waktu yang tersedia bagi kita.

Kita tak bisa menggenggam waktu. Waktu di saat ini pun akan segera berlalu, ya bagaikan air mengalir. Akan tetapi, kita bisa hidup dalam tiap momen dengan baik. Dari momen ke momen dengan sepenuh hati. Kita tidak bisa memiliki sang waktu, tapi kita bisa berlayar melalui waktu hidup ini menuju kehidupan yang baik dan cerah.

Terima dan bersyukur atas apa yang dimiliki saat ini. Isilah hidup ini dengan hal-hal baik melalui pikiran, ucapan, dan perbuatan, inilah yang disebut TRANSFORMASI DIRI. Tentukan tujuan hidup kita. Tentunya kita punya planning ke depannya mau menjadi apa. Setelah kita menetapkan itu, segera bertindak! FOKUS pada yang kamu lakukan. HIDUP di SAAT INI. Do the best!

Dhammatalk YM. Bhikkhu Uttamo Mahathera Tema : Hidup di Masa Kini, Kunci Transformasi Diri 29 Nov 2015

Dengan sedikit penambahan dan editan


Quote : Time is like a river. You cannot touch the same water twice because the flow that has passed will never pass again. Enjoy every moment of life

May all beings be happy, peaceful, and free from suffering._/\_

Source : dpt share dr Anna - Buddhist Friendship Community