Showing posts with label Muse. Show all posts
Showing posts with label Muse. Show all posts

Wednesday, March 8, 2017

HELLO AJAHN

Berikut adalah pertanyaan yang terpilih dan dijawab oleh Ajahn Brahm selama Tour d’Indonesia 2015.

-----------
Lily Zhai: Bagaimana cara agar tidak membenci orang yang menjahati kita? Susah rasanya berbelas kasih pada orang yang membuat susah hidup kita.

Ajahn Brahm: Mengapa Anda mesti marah terhadap orang yang melakukan hal buruk kepada Anda? Merekalah yang melakukan karma buruk, bukan Anda. Jika mereka yang memperoleh buah karma buruk, maka merekalah yang mestinya berduka. Jadi jangan biarkan siapa pun, tak peduli apa yang mereka lakukan, untuk merampas kebahagiaan Anda. Makin Anda membiarkan mereka membuat Anda sedih, makin mereka akan melakukannya lagi dan lagi. Namun jika Anda menjadi seperti teratai; jika Anda mengencingi teratai, semua air seni akan luruh tanpa ada bau yang tersisa. Sama pula jika Anda menuang parfum Chanel No.5 ke teratai, itu akan mengalir jatuh tanpa ada wangi yang tersisa. Anda seharusnya berlatih menjadi seperti teratai. Pujian, celaan, Anda l-e-p-a-s-k-a-n. Maka, orang hanya bisa melukai Anda sedikit. Namun sebagian besar orang berpikir, "Mereka melukaiku, mencurangiku." Tiap kali Anda mengingatnya, mereka melukai Anda sekali lagi. Namun jika mereka melakukan hal buruk ke saya, mereka hanya melukai saya sekali, lalu saya melepasnya. Maka kenangan buruk masa lalu, orang yang melakukan hal buruk kepada Anda, itu masa lalu! Itu sudah mati. Lepaslah. Mudah.... Lebih gampang diomongkan daripada dilakukan? Tidak! Lebih mudah dilakukan dibanding diomongkan.

-----------
Meli Laurensia: Apa sih tujuan manusia itu hidup?

Ajahn Brahm: Tujuan hidup adalah belajar, bertumbuh menjadi orang yang lebih baik. Sama seperti pergi ke sekolah. Jika Anda tidak lulus ujian, Anda harus mengulangnya lagi. Jika Anda gagal dalam ujian kehidupan, Anda harus kembali lagi. Dengan memakai popok, mengisap kempeng di mulut, Anda harus masuk sekolah kehidupan dari awal lagi. Maka berlatihlah dengan baik, jadilah orang yang lebih baik, lebih bijak, bermeditasilah, dan Anda akan lulus ujian kehidupan. Anda tidak akan kembali lagi.

-----------
Han: Mengapa hal buruk terjadi pada orang baik?

Ajahn Brahm: Karena itu bukanlah hal buruk. Misalnya Anda dalam perjalanan pulang dan menginjak kotoran anjing. Kotoran anjing yang kotor, lengket, dan bau di seluruh sepatu Anda. Ini seperti hal buruk yang menimpa banyak orang. Apa yang Anda lakukan? Jika Anda umat Buddha, jangan membersihkannya langsung. Anda bawa kotoran anjing itu, lalu gosok-gosokkan di bawah pohon mangga di kebun Anda. Setahun kemudian, mangga Anda akan lebih manis, sarinya lebih banyak dibanding sebelumnya. Saat Anda makan mangga itu, dengan jusnya mengaliri dagu Anda, ingatlah apa mangga itu, setahun yang lalu. Itu adalah kotoran anjing yang kini Anda makan, beralih wujud menjadi mangga yang manis. Begitulah bagaimana orang bajik menghadapi apa yang terjadi dalam kehidupan. Mereka menanamnya, menjadikannya pupuk untuk kebijaksanaan dan kewelasan. Ini hanya bisa terjadi pada orang baik yang tahu bagaimana mengalihkan hal buruk menjadi kebijaksanaan dan kewelasan.

-----------
Chia Yin: Mengapa kita selalu takut akan sesuatu yang belum terjadi? Apakah itu salah satu kotoran batin atau sebuah persepsi bawah-sadar?

Ajahn Brahm: Banyak manusia senang merasa takut. Mereka senang mendengar cerita hantu. Anda ingin mendengar cerita hantu? Saya sering memimpin upacara perkabungan di Australia. Ada orang yang telah bekerja di rumah duka seumur hidupnya. Di rumah duka, Anda bekerja mengurusi semua peti mati ini. Saya bertanya kepadanya, "Anda pernah melihat hantu?" “Ya”, jawabnya. "Jadi, apa cerita hantu paling menakutkan yang bisa Anda ceritakan kepada saya?" Di Australia, mereka punya mobil yang khusus untuk mengangkut peti mati. Namanya hearse. Kadang, ada banyak perkabungan dalam satu hari. Namun demi kepentingan keluarga yang berkabung, tiap perkabungan, mereka membersihkan mobil peti mati luar-dalam. Mereka menyewa satu orang, itu saja yang ia lakukan, membersihkan mobil peti mati. Ia baru saja selesai membersihkan bagian dalam. Ia menutup pintu dan jendela. Ia baru membersihkan bagian luar ketika sesuatu yang aneh terjadi. Dari dalam mobil muncul kabut. Kabut itu menyelimuti seluruh bagian dalam mobil. Dari jendela tampak kabut di dalam mobil. Lalu, muncul cap telapak tangan di seluruh jendela. Cap telapak manusia, atau mungkin bukan manusia. Ada sesuatu yang berusaha keluar. Seram sekali! Lalu, yang kabur justru pria yang semestinya membersihkan mobil. Jadi hati-hatilah, meski mereka seharusnya menaruh peti mati ke kuburan, kadang masih ada yang mau keluar dari sana. Anda ingin bekerja di tempat seperti itu? Itulah sebabnya mereka harus mengeluarkan uang begitu banyak dalam perkabungan, karena mereka membayar orang melakukan pekerjaan ini.

Orang senang ditakut-takuti, sekalipun saat tidak ada yang perlu dicemasi. Anda menemukan sesuatu untuk dicemasi. Saya pikir itu karena orang-orang takut dengan kedamaian. Saat kedamaian datang dalam kehidupan Anda, terlalu banyak di antara orang-orang malah menghancurkannya. Cobalah jika Anda bisa memahami sebabnya, mengapa kita senang merasa takut, ditakut-takuti.

Lalu, berapa banyak dari Anda yang menemui peramal nasib? B-O-D-O-H. Pernah, bertahun-tahun yang lalu, pada ulang tahun saya.... Sungguh sulit memberi kado bagi bhikkhu, kami tak menginginkan apa-apa. Maka ada orang yang punya ide sangat bagus, “Saya akan memberikan ramalan bintang untuk Ajahn pada hari ulang tahunnya!” Lalu, pada hari ulang tahun saya, ia berupaya dan mendapatkan ramalan bintang untuk setahun ini. Ia memperolehnya dari peramal yang sangat hebat, ini menghabiskan banyak uangnya. Ia bilang, "Ajahn Brahm, ini akan terjadi setahun ini. Siapa pun yang lahir tanggal ini, maka tahun ini adalah tahun yang amat sangat bagus untuk menjalin asmara.” Padahal saya ini bhikkhu. Setelah itu, saya tidak memercayai ramalan bintang. Buang-buang uang saja. Itulah sebabnya orang cemas. Mereka ketagihan pada kecemasan dan takut pada kedamaian.

-----------
Wenni Lee: Sabar itu memang tidak ada batasnya, tapi sampai pada titik apa kita boleh bersabar?

Ajahn Brahm: Ada dua jenis kesabaran. Yang pertama adalah menunggu sesuatu terjadi. Menunggu seseorang berubah. Menunggu sesuatu yang baik terjadi dalam hidup Anda. Saya menyebut itu menunggu pada masa depan. Ini sangat keliru, dungu, dan menyebabkan banyak penderitaan. Ini bukanlah yang orang sebut sebagai kesabaran. Ini tetap saja nafsu. Itu namanya menunggui sesuatu terjadi. Jenis menunggu yang lebih baik disebut menunggu pada momen kini. Siapa pun atau apa pun yang menyebabkan momen sulit bagi Anda, mungkin atasan Anda, mereka tidak ada di sini hari ini. Ini hari Minggu, Anda tidak masuk kerja, maka nikmatilah ini. Namun sebagian orang sedih, muram, meskipun mereka tidak akan menemui atasan mereka sampai besoknya. Mereka masih mengalami waktu yang tidak bahagia. Karena mereka terus menunggu pada masa depan alih-alih menunggu pada momen kini. Meskipun Anda sangat sakit, dalam derita hebat, sangatlah sulit menunggu pada masa depan, namun sangat mudah menunggu pada momen kini. Sama seperti ketika saya menandatangani buku, berfoto, menandatangani buku, berfoto, saya bisa melakukannya karena saya menunggu pada momen kini. Hanya ada satu foto, hanya ada satu buku untuk ditandatangani pada satu momen. Inilah yang disebut kesabaran.

-----------
Yuliana: Mengapa saya suka melihat wajah Ajahn tertawa di setiap poster dan buku?

Ajahn Brahm: Ketika Anda melihat seseorang bahagia, ini menyemangati Anda. Kebahagiaan itu menular, seperti flu burung, tetapi yang positif. Namun kemarahan dan sikap negatif juga bisa menular. Maka ketika seseorang sedang mengkritik, "Buat apa kamu melakukan itu?" "Kamu tak semestinya begitu!" "Jangan seperti itu!" "Aku boleh bicara kepada kamu sesukaku!" Ini akan makin dan makin buruk. Menular. Ini seperti ebola, hanya bedanya ini virus amarah. Amarah jauh lebih buruk dibanding ebola. Penangkal virus itu adalah ketika ada orang yang bahagia.

Bahkan di upacara perkabungan di Australia, saya menyampaikan lelucon. Namun saya tanya dulu ke orangnya sebelum meninggal, "Apa Anda senang jika saya mengucapkan lelucon saat

Sunday, May 1, 2016

Percakapan Seorang Sarjana dengan Seorang Bhikkhu.

 "Apa kunci kebahagiaan itu?"

Bhikkhu menjawab:

"Saat tersenyum, tersenyumlah.
Saat tertawa, tertawalah.
Saat tidur, tidurlah.
Saat makan, makanlah.
Saat sedih, menangislah.
Saat bersama dengan yg dicinta, sayangilah.
Saat bertemu musuhmu, maafkan dan maklumilah.
Saat berpisah, lepaskan dan relakanlah.
Saat emosi datang, menjauhlah dari siapapun.
Inilah kunci kebahagiaan."

Sarjana itu kembali bertanya, "semudah itu?"

Bhikkhu, "siapa bilang mudah?"
"Banyak yg senyum, tetapi penuh kepedihan.
Banyak yg tertawa, tetapi tertawa penuh keangkuhan.
Banyak yg makan, tetapi tidak merasakan apa yg dimakan, penuh kesibukan, sibuk bicara, dan lainnya.
Banyak yg bersama dengan yg disayang, tetapi tidak pernah mengutarakan rasa sayangnya. Sebaliknya banyak intrik dan permainan kata-kata yg menyebabkan pertikaian. Baik antar sesama suami isteri, orang tua dan anak, bahkan sesama saudara.

Saat bertemu musuh, semakin penuh rasa benci, dan ada keinginan untuk menghabiskannya, emosi yg tidak terkendali.

Saat berpisah, melekati dan memikirkan setiap saat, tak bisa melihat dunia lain yg penuh harapan untuknya. Matanya tertutup oleh kemelekatan yg hanya menghancurkan diri dan orang sekitarnya.

Saat emosi, hancurlah semua peluang utk mendapatkan kebahagiaan. Kebahagiaan dan rejeki yg ada pun segera menjauh."

Sarjana, "hmmmmmm..... Sederhana yg tidak sederhana, asal berlatih pasti bisa."

Bhikkhu, "sadhu...sadhu...sadhu"

Inpirasi dari kisah zen


Sumber : unknown
UNDERSTANDING YOUR PARENTS

Jika Anda merasa terganggu dgn ayah /ibu / kakek / nenek Anda yg sdh berusia lanjut, karena mereka cerewet, suka ngomel, banyak bicara dll. Baca artikel ini hingga selesai.

Tahukah Anda bahwa sebenarnya dgn cerewet, suka cerita, ngomel, dll, ini sebenarnya bentuk verbal catharsis, yaitu orangtua mengeluarkan unek2nya sehingga setelah melakukannya hatinya akan menjadi lega & nyaman.

Selama orangtua msh mau bicara, mengeluarkan pikiran & terutama perasaannya dlm bentuk verbal, ini tentu sgt bagus, daripada mereka hanya diam saja. Semakin mereka diam, tdk ada komunikasi, maka akan semakin tdk baik bagi diri mereka.

Sbg anak / cucu kita perlu bijak memahami kondisi & situasi orangtua kita. Seorang ahli hipnoterapis pernah berkata, "Walau saya bisa hipnoterapi, saya tdk akan mensugesti ibu saya agar tenang & tidak cerewet lagi. Memang Ibu saya ini cewewetnya minta ampun. Namun, justru inilah yg membuat Beliau bisa selalu sehat & panjang umur. Saat ini Beliau berusia 92 tahun."

Saat kita kecil, kita ini cerewetnya minta ampun loh,  bicara hal2 yg tdk penting, suka meng-ulang2 apa yg sudah dikatakan atau ditanyakan. Namun, karena saat itu kita msh kecil, msh baru belajar bicara, cerewetnya  dianggap lucu & menyenangkan. Saat seseorang menjadi tua, suka atau tdk suka ia akan kembali spti anak kecil. Namun, karena skrg tubuhnya sdh tua, renta, & keriput, cerewetnya tdk lagi lucu & menggemaskan, malah terkesan menjengkelkan.

Sayangilah  orangtua apa adanya, dgn segala keluguan & kekurangan mereka, selama mereka masih ada bersama kita. Suatu saat nanti, saat suara mereka sdh tdk lagi terdengar, kita pasti akan KANGEN & merasa KEHILANGAN .

Ingat, nanti kita juga akan menjadi tua, renta, keriput & cerewet spti ortu kita. Semoga kita bisa memahaminya.

“Love your parents and treat them with loving care for you will only know their value when you see their empty chair”


Sumber : unknown
-Waspada Terhadap Konsep-


Sekarang kita sedang melihat kopi, "Wah, kalau sehari tidak minum kopi, tidak bisa sehat rasanya." Maka kita mengatakan kopi itu membawa kemelekatan, ketagihan. Tetapi, sesungguhnya tidak demikian, kopi itu tidak membawa kemelekatan, pikiran kitalah yang melekat pada kopi, karena kita menikmati kopi terus-menerus.
Mereka yang hanya minum kopi sebulan sekali tidak akan melekat pada kopi itu sedemikian kuat. Tidak ada kemelekatan dalam diri mereka yang minum kopi sekali-sekali saja. Kemelekatan itu muncul dari kenikmatan yang diulang-ulang, berkali-kali, tanpa kewaspadaan, tanpa kebijaksanaan. Kopi tidak pernah menarik-narik orang. Kopi adalah benda mati.

Emas, intan, uang, tidak pernah menarik-narik orang, itu benda mati, tetapi, konsep atau pandangan salah yang menunggangi kenikmatan itulah yang membuat kemelekatan.


Ada seorang yang miskin sekali, anaknya menangis minta dibelikan balon. Ibunya mengatakan "Kita ini tidak punya apa-apa, untuk makan saja sulit", tetapi karena cinta kepada anaknya yang semata wayang, penjual balon itu diundang dan ibu itu berkata "Anak saya ini ingin balon, tetapi saya tidak punya uang, apakah anda mau menerima bokor ini untuk ditukar dengan satu balon saja?" Penjual balon itu tidak tertarik, bokor sudah penyok seperti ini, kecil, kotor, hitam. Lalu bokor itu dikorek-korek, ternyata bokor itu terbuat dari emas. Penjual itu tertarik, tetapi dia jual mahal. Penjual balon itu mencemooh "Bokor seperti ini, kecil, penyok-penyok, untuk membeli balon satu pun tidak cukup." Padahal dia tahu kalau bokor itu terbuat dari emas.

Setelah penjual balon itu lewat, penjual balon kedua datang ke rumah si ibu miskin. Dia lalu diundang oleh ibu itu dan ditawari bokor itu juga. Penjual balon kedua tahu juga kalau bokor itu emas, lalu dia mengatakan "Ibu, bokor ini terbuat dari emas, mahal sekali harganya. Hidup ibu bisa baik kalau bokor ini dijual, tidak miskin seperti ini. Ini balonnya saya beri saja, tidak perlu membeli." Ibu itu sangat berterimakasih kepada penjual balon yang kedua.

Cerita belum selesai.
Karena sebetulnya ingin sekali memiliki bokor itu, penjual balon yang pertama tadi kembali menemui ibu itu lagi, tetapi penjual balon kedua sudah berlalu.
Dia berkata "Ya sudahlah, bokormu saya tukar dengan satu balon, biarpun tidak cukup harganya." Tetapi, ibu itu sekarang sudah tahu bahwa bokornya terbuat dari emas.

Mengapa pada awalnya penjual balon pertama tidak tertarik? Karena tidak ada konsep bahwa benda itu berharga. Tetapi, setelah dikorek-korek, kemudian tahu bahwa bokor itu terbuat dari emas, dan dia pernah tahu bahwa emas itu mahal. Mahal itulah konsep atau pandangan. Dia tahu betapa senangnya kalau punya emas. Kesenangan yang ditunggangi oleh konsep, tidak ada kebijaksanaan, tidak ada pengendalian diri, maka timbullah niat jahat untuk menipu ibu miskin itu.

Beberapa waktu lalu ketika ikan arwana masih banyak disukai, harga seekor ikan arwana sangat mahal. Tetapi orang desa yang tidak tahu tentang ikan arwana tidak akan mau beli meskipun murah. Dia pikir "Apakah ikan ini bisa dimakan? Kalau tidak bisa, buat apa dibeli?"
Orang desa itu tidak punya konsep apa-apa terhadap ikan arwana, tetapi orang kota punya konsep bahwa ikan arwana bisa membuat pemiliknya makmur. Dan makmur itu rasanya enak, lebih makmur lebih enak. Orang kota mempunyai sarana untuk membeli ikan yang mahal itu. Kenikmatan ditunggangi dengan pengertian yang salah, dibantu sarana yang cukup, maka jadilah dia mengeluarkan uang berjuta-juta untuk membeli seekor arwana.

Demikian juga iklan-iklan yang selalu membuat orang terangsang untuk membeli. Iklan-iklan itu menanamkan konsep bahwa barang yang diiklankan itu akan memberikan kenikmatan.
(Sri Pannavaro)
Cuek...!

Atas nama hukum kamma, seseorang bisa saja menjadi orang yang apatis, cuek, tidak peduli dan masa bodoh dengan orang sekitar. "Biarlah mereka menderita, itu khan sudah kamma mereka! Biarlah mereka berbuat jahat, nanti jera sendiri saat kammanya berbuah! Sampai....... Biarlah mereka para bhikkhu lepas jubah, itu khan sudah kammanya, kammanya memang hanya sampai di situ saja!

Dengan cara yang sama, atas nama pemahaman bahwa diri sendiri adalah pelindung bagi sendiri, seseorang bisa saja menjadi orang yang masa bodoh seperti di atas. "Biarlah mereka menderita, semuanya khan sudah tergantung pada diri sendiri! Biarlah mereka jatuh, untuk apa kita peduli? Bukankah semuanya tergantung pada diri sendiri?! Yang merasakan bahagia dan derita khan diri sendiri. Untuk apa ikut campur?!

Dulu saya pun sempat berpikir demikian. Tetapi, pandangan ini terpukul keras ketika suatu kali membaca pernyataan Sang Buddha yang mengatakan bahwa apabila di dalam komunitas (Sangha) orang-orangnya tidak saling menasehati, tidak saling mengingatkan untuk melakukan hal yang baik, komunitas tersebut tidak ada ubahnya seperti kumpulan domba.... Saya melihat bahwa masyarakat Buddhis yang terdiri dari perumahtangga dan pabbajita, juga merupakan komunitas yang seharusnya anggotanya saling membantu satu sama lain demi kemajuan ke arah yang baik.

Akhirnya terpikir bahwa sekarang saya mengenal ajaran Sang Buddha, menikmati ajaran Sang Buddha, mendapatkan  jalan hidup yang bermanfaat, karena Sang Buddha tidak cuek, tidak masa bodoh. Seandainya beliau adalah orang yang cuek bebek, masa bodoh, apatis, tidak peduli dengan makhluk lain, maka tentunya saat ini tidak ada Dhamma, tidak ada Sangha, dan tidak ada saya yang meskipun sedikit tetapi mengenal ajaran Beliau.

Saya pribadi tidak menganjurkan orang-orang untuk selalu mencampuri urusan orang lain, karena mencampuri urusan orang lain yang tidak tepat pada waktunya dan dilakukan dengan cara yang tidak bijak, justru menambah sebuah permasalahan menjadi bertambah runyam. Tetapi, ketidakpedulian terhadap lingkungan sekitar juga bukanlah ajaran Sang Buddha. Membantu apa yang baik, apa yang lebih bermanfaat, tentu merupakan hal yang baik, lebih baik ketimbang yang cuek bebek.

My homage to the Buddha.....!
(by Bhante Santacitto)

Saturday, April 30, 2016

Asal Mula Cheng Beng (Sembahyang Kubur)

Diceritakan pada zaman Dinasti Ming ada seorang anak yg bernama Cu Guan Ciong (Zhu Yuan Zhang, pendiri Dinasti Ming) yg berasal dari sebuah keluarga yg sangat miskin. Dalam membesarkan & mendidik Cu Guan Ciong, orang tuanya meminta bantuan kepada sebuah vihara

Semakin dewasa, karma Cu Guan Ciong semakin baik sehingga ketika dewasa, Beliau berhasil menjadi seorg Kaisar

Setelah menjadi Kaisar, Cu Guan Ciong kembali ke desa utk menjumpai orang tua nya Sesampainya di desa ternyata org tua nya telah meninggal dunia & tidak diketahui keberadaan makam nya

Kemudian, untuk mengetahui keberadaan & menghormati makam orang tua nya, sebagai seorang Kaisar, Cu Guan Ciong memberi titah kpd seluruh rakyatnya utk melakukan ziarah & membersihkan makam leluhur mereka masing 2x pada hari yg telah ditentukan (5 April)

Selain itu, diperintahkan juga utk memberikan tanda kertas kuning di atas makam2 yg telah dibersihkan.
Tai Zu

Setelah semua rakyat selesai berizarah, Kaisar memeriksa makam2 yg ada di desa & menemukan makam2 yg belum dibersihkan serta tdk diberi tanda

Kemudian Kaisar menziarahi makam2 tsb dgn berasumsi bhw di antara makam2 tsb pastilah <ada> merupakan makam orang tua nya, sanak Keluarga  & leluhurnya.

Hal ini kemudian dijadikan tradisi utk setiap tahunnya

>TIDAK  ADA  ke-2 Org Tua Kita TIDAK  ada kita sekarang Ini.


Bakti kpd org tua adalah dasar dari segala kebajikan. Yg paling utama adalah bakti saat org tua masih hidup yaitu dg  berusaha membalas jerih payah mereka yg telah membesarkan kita. Saat org tua telah meninggal dunia, kita mengenang & mengingat kembali budi kebajikan mereka & dg sekuat tenaga membalasnya

Semoga kita selalu menjadi anak yg berbhakti, terutama sekali pd waktu mereka masih hidup

Selalulah berikan yg terbaik. Jangan  memasukkan mereka ke panti jompo. Itu durhaka

Bahagiakanlah Selalu & Berbaktilah Anda kepada kedua Orang Tua Anda ketika Mereka masih ada... ...


Sumber : unknown
Kebahagiaan

Orang  kadang bertanya, "Apa yang harus kuperbuat untuk berbahagia?"
Bodoh, anda tidak perlu melakukan apa pun untuk bahagia. Anda tahu mengapa?
Karena anda sudah memilikinya. Anda sudah mendapatkannya sekarang ini. Namun anda menutupinya dengan kebodohan anda. Anda menghalanginya.
Berhenti menghalanginya dan anda akan memilikinya.
Jika saya dapat menunjukkan kepada anda bagaimana melepaskan diri dari konflik anda, kegelisahan anda, ketegangan anda, tekanan anda, kekosongan anda, kesepian anda, keutusasaan anda, depresi anda, sakit hati anda; ----- jika anda dapat melepaskan diri dari semuanya itu, apa yang tersisa pada diri anda? Kebahagiaan murni semata, itu yang akan anda miliki.

Orang2 Tiongkok mengatakannya dengan sangat indah:
Ketika mata tidak terganggu, kata mereka, hasilnya adalah penglihatan. Jangan lakukan apa pun untuk mendapatkan penglihatan. Ketika mata tidak terganggu, hasilnya adalah penglihatan.
Ketika telinga tidak terganggu, hasilnya adalah pendengaran.
Ketika mulut tidak terganggu, hasilnya adalah cita rasa.
Ketika pikiran tidak terganggu, hasilnya adalah kebenaran.
Dan ketika hati tidak terganggu, hasilnya adalah kegembiraan dan cinta.
Anda sudah mendapatkan semuanya, tetapi terganggu.
Lepaskanlah gangguan itu!

 Sumber: "Rediscovering Life" - Anthony De Mello
" Team = Keluarga "

Aku hanyalah seorang individu yang pada kenyataannya tidak mampu hidup hanya sendiri..ibarat sebuah titik pasir di tepi lautan..hanya setitik..tak akan terlihat..tak akan tersebut...


Aku akan menjadi kita bila ada kamu..dia, engkau dan semua orang...tanpa kita sadari kita tak bisa hidup sendiri..kita adalah makhluk sosial...

Aku akan bisa..aku akan menjadi kuat karena kalian semua..itulah sebuah TEAM..saling mendukung..gotong royong..bagaikan semut yg selalu bergerombol..saling support dalam mencapai hal yg mereka inginkan...

Tiada rasa dengki...tiadak rasa kecewa..tidak ada keinginan untuk saling menjatuhkan..itulah sebuah TEAM yang sesungguhnya..yg tercipta adalah aku..kamu dan kita..harus bisa bersatu..bergandengan tangan layaknya sebuah Keluarga..tercipta karena keharmonisan..tercipta karena saling percaya dan saling memilikki antara satu dengan yang lainnya....



 Source : share dari Ardy Wong - facebook : Buddhist Friendship Community

Friday, April 29, 2016

4 tipe  Manusia.

1. Huang Ti Sen, Huang Ti Gu ( Badan raja, tulangnya juga tulang raja). Golongan ini utk, org kaya & jiwanya juga kaya & bisa menggunakan kekayaannya utk dinikmati, juga mau berbuat Amal / Kebajikan .

2. Huang Ti Sen, Ji Kai Gu ( Badan raja, tapi tulang pengemis ). Golongan ini menggambarkan, org kaya tapi gak bisa menikmati uangnya. Kerjanya sibuk terus menerus utk mencari uang. Jgn kan utk berbuat kebajikan, setiap tindakannya saja dihitung untung-rugi nya. Memiliki mobil bagus cuma bisa di-elus2 saja, malah banyak supir atau pegawainya yg pakai... Dunianya cuma toko atau tempat kerjanya. Tahu2 sdh tua... ( Banyak nih yg model gini disekeliling kita ).

3. Ji Kai Sen, Huang Ti Gu ( Badan pengemis, tapi tulang raja ). Golongan ini menggambarkan, org2 yg secara materi biasa2 saja, tapi bisa menikmati hidupnya. Walaupun hidupnya pas2an, tapi bermental kelimpahan & berjiwa sosial.

4 Ji Kai Sen, Ji Kai Gu ( Badan pengemis, tulang juga pengemis ). Golongan ini paling parah, sdh miskin bermental pengemis... sdh gak punya duit, mentalnya minta dikasihani terus, istilah kerennya bermental "poor me" atau kasihanilah saya.

Dlm menjalani kehidupan ini,jika kita benar2 menjalankan ajaran kebajikan dgn benar, maka tdk mungkin bisa sampai terpuruk.

Yg mesti diingat bhw, "Tidak punya uang itu hanya bersifat sementara, tapi kalau merasa Miskin itu Mental yg akan terus menempel dlm Pikiran & Perbuatan.

--------------------------------
BELAJARLAH HIDUP CHIN CHAI.

Orang tua selalu menasehati kita kalau mau hidup banyak sahabat, relasi yang baik, keluarga harmonis, dagangan lancar dan hidup menjadi santai dan enjoy, maka jadilah orang yang "chin chai".

Chin chai artinya tidak terlalu banyak perhitungan plus Easy Going.

Orang yang terlalu perhitungan setiap detik, otaknya dipenuhi dengan angka angka. Jiwanya disesaki oleh dua kata yang paling penting dalam hidupnya yaitu UNTUNG dan RUGI.
Hatinya selalu Cemas dan Gelisah memikirkan bagaimana meraup keuntungan habis habisan dan memblokir semua bentuk kerugian.

Serambut kerugian dipandang serius dan besar bagai Gunung Semeru. Suka Tarik Urat, bersilat lidah, ngotot dan gontok gontokan, hanya untuk masalah sepele.

Orang yang perhitungan tak pernah mau mengalah apa lagi memberi dan berkorban. Sikap perhitungan membuat hidup tegang, kuatir, capek dan menderita.

Belajarlah menjadi "chin chai".
Orang 'chin chai' selalu mengalah dan memberi, toleransi dan pengertian, gampang bekerja sama, mudah diajak berunding, sehingga punya banyak sahabat.

Rejekinya lancar, hidupnya tenang, ceria dan tidak banyak "Gejolak". Dia dan keluarganya hidup lebih sehat, harmonis, bahagia dan enjoy.

Memang benar nasihat orang tua,
"CHIN CHAI" adalah Kunci Hidup Sukses dan bahagia.


Sumber : copas
Kisah tentang Pangeran Siddharta yang meninggalkan kemewahan istana untuk kemudian menjadi pertapa di hutan sebelum akhirnya menjadi Buddha, terulang kembali dalam dunia modern. Lebih tepatnya terjadi di negeri jiran, Malaysia.

Adalah Ven. Siripanno yang lebih memilih menjadi bhikkhu ketimbang menerima warisan segunung uang dari ayahnya, Ananda Krishnan, orang terkaya ke-2 Asia Tenggara dan terkaya ke-89 dunia asal Malaysia. “Uang tidak bisa membeli kedamaian batin dan kebahagiaan sejati,” ujar Ven. Siripanno.

Ven. Siripanno adalah anak laki-laki satu-satunya Ananda Krishnan dari istri yang berasal dari Thailand. Ia memiliki dua adik perempuan. Sebagai satu-satunya anak laki-laki, Ven. Siripanno seharusnya adalah penerus kerajaan bisnis ayahnya.

Ananda Krishnan adalah pengusaha sukses keturunan Srilanka. Kerajaan bisnisnya diantaranya bergerak di bidang media (Astro), satelit (MEASAT), minyak bumi dan gas (Bumi Armada, Pexco), telekomunikasi (Maxis, Aircel), hingga perusahaan investasi dan properti. Menurut majalah Forbes, kekayaan Ananda Krishnan mencapai 9,6 miliar dollar AS atau sekitar 92,8 triliun rupiah!

Ananda Krishnan lahir dari keluarga Buddhis yang berimigrasi dari Srilanka. Walaupun memiliki kekayaan berlimpah, namun Ananda Krishnan tetap rendah hati. Ia juga dikenal sebagai filantropis, terutama dalam bidang pendidikan.

Puluhan tahun lalu, Ananda Krishnan kehilangan putranya. Ia kemudian mencari-carinya, dan pencariannya terhenti di sebuah monasteri di Thailand utara. Ia terkejut melihat putranya mengenakan jubah cokelat, berkepala plontos dengan sebuah mangkuk patha di tangan. Lalu Ananda Krishnan mengundang putranya yang telah jadi bhikkhu tersebut untuk makan di rumahnya.

Dengan ramah Ven. Siripanno menjawab, “Maaf, saya tidak bisa menerima undangan Anda. Seperti para bhikkhu lain, saya harus ber-pindapatta untuk mengumpulkan dana makanan.” Balasan Ananda Krishnan kemudian menjadi headline di berbagai media, “Dengan semua kekayaan yang saya miliki, saya bahkan tidak mampu memberi makan untuk putraku sendiri.”

Putranya kemudian tetap tinggal di monasteri di hutan Thailand, dan seperti para bhikkhu lain, kehidupannya juga bergantung pada sokongan umat.

Sebelum menjadi bhikkhu, Ven. Siripanno dibesarkan dan bersekolah di Inggris. Ia sangat cerdas dan menguasai 8 bahasa. Ia ditahbis saat usia 18 pada tahun 1989 di Wat Pah Nanachat, sebuah vihara hutan di Thailand utara yang didirikan oleh Ajahn Chah pada tahun 1975. Vihara tersebut dikepalai Ajahn Sumedho, seorang murid Ajahn Chah asal Amerika. Kebanyakan bhikkhu yang tinggal di situ adalah bhikkhu bule.

Ven. Siripanno kini menjadi kepala Wat Dao Dum Hermitage, sebuah vihara hutan di Thailand utara.

Apa yang membuat Ven. Siripanno yang kini berusia 40 tahun lebih memilih menjadi bhikkhu daripada menikmati kekayaan warisan ayahnya? “Hal paling berharga yang bisa kita lakukan dalam hidup adalah membuat pikiran menjadi damai,” ujar Ven. Siripanno suatu ketika. Dan ia menemukannya di dalam kesederhanaan hidup sebagai bhikkhu Sangha, bukan dalam tumpukan triliunan uang ayahnya.

May all beings be happy🙏🏻


sumber : unknown

Thursday, April 28, 2016

🌹 Apabila hari ini kita belum dapat 'MEMBERI KEBAHAGIAAN' kepada sesama, maka usahakan hari ini 'TIDAK MENYAKITI' orang lain.

🌹 Apabila hari ini kita belum dapat 'Melakukan AMAL', maka usahakan hari ini 'Tidak Melakukan DOSA'.

🌹 Apabila hari ini kita belum dapat 'Berakhlak MULIA', maka usahakan hari ini 'Tidak Menyimpan' hati yang BURUK pada sesama.

🌹 Apabila hari ini kita belum dapat 'MENGHARGAI Orang Lain', maka usahakan hari ini 'Tidak Memberi NILAI Berlebih' pada diri sendiri.

🌹 Apabila hari ini kita belum dapat 'Memberi MANFAAT', maka usahakan hari ini 'Tidak MERUGIKAN' bagi sesama.

🌹 Apabila hari ini kita belum dapat 'Mengingat KEBAIKAN Orang', maka usahakan hari ini dapat 'Melupakan KEBURUKAN' orang lain.

semoga harimu dipenuhi  keberkahan dan kebijaksanaan.

To All My Dear Friends. Have a Wonderful Day


Sumber : copas
Rahasia kebahagiaan adalah mampu berkecukupan hati pada saat ini.
Mengerjakan sesuatu tidaklah berat, namun terus memikirkannya itu yang memberatkan suatu pekerjaan. Terkadang kita tidak bahagia dikarenakan berpikir terlalu banyak (thinking to much).

Tak perlu takut salah dalam mengambil keputusan, karena yang perlu diperhatikan juga adalah setelah keputusan itu diambil. Jika Anda memilih kiri, jalani dan jadikan itu bermanfaat dan sukses. Jika Anda pilih kanan, jalani dan jadikan itu bermanfaat dan sukses. Take action.

Jika kita bahagia, kita lebih berenergi dan sehat.

Apa arti 'penjara'? Terkadang kita memenjarakan diri kita sendiri. Segala hal yang tidak kita sukai adalah penjara. Contohnya. Seorang istri yang tidak menyukai suaminya. Maka, pernikahan jadi sebuah penjara. Suatu pekerjaan yang tidak kita sukai, maka pekerjaan itu adalah penjara bagi kita. Kemudian, tubuh ini menua dan sakit, kita tidak menyukainya, maka tubuh jadi suatu penjara. Perhatikanlah bahwa hidup kita dikendalikan oleh kondisi luar. Jika kondisi luar itu tidak sesuai dengan yang kita inginkan, maka kita terpenjara dan menderita. Lalu, bagaimana agar kita terbebas dari penjara-penjara dalam hidup kita ini? Yaitu dengan mengubah sikap kita melalui rasa berkecukupan. Contohnya, meskipun suami seperti ini, namun ia 'cukup' baik. Melalui rasa cukup, kita berhenti mencari-cari alasan yang membuat kita tidak puas, sehingga kita pun berdamai dengan diri sendiri dan orang lain. Batin pun sejuk.

Lanjut narasumber Master Guo Jun Fa Shi. Dengan resep kebahagiaan 'ACT'
Acceptance. Mampu menerima realita apa adanya.
Contentment. Punya hati yang berkecukupan (santacitta).
Transform, kita harus bisa berubah ke arah yang baik.

Sudah tau serakah dan benci itu tidak baik, tapi tetap saja dituruti. Oleh karena itu, mulai saat ini, praktikkan jalan yang benar, transform ke arah yang positif.

Selain itu, sertakan kesabaran dan tetap tersenyum. ☺😊

Talkshow Ajahn Brahm & Guo Jun Fa Shi.
Source : dapat share dari Lily
Berbagi motivasi,pengalaman ...

Beberapa hari yang lalu saya berkesempatan memberikan training di Bandung . Karena acara dimulai jam 13.00 maka saya berangkat dari Jakarta pukul 9.30. Ketika mulai memasuki tol ke arah Sadang, di belakang saya ada sebuah mobil Lexus berwarna hitam yang melaju dengan kecepatan tinggi. Tetapi yang saya suka walaupun ia melaju dengan kecepatan tinggi, ia tidak memaksakan kehendak.

Jika mobil di depannya tidak mau memberi jalan, maka ia yang mengalah dengan mengambil jalan ke kiri dahulu baru kemudian balik lagi ke jalur kanan.

Supaya tidak ngantuk karena saya menyetir sendirian dan tertarik dengan cara menyetir si mobil hitam ini, iseng-iseng saya membuntuti mobil tersebut dari belakang. Saya ikuti cara ia menyetir, termasuk kecepatannya. Ketika tidak ada mobil lain di tol, kecuali mobil tersebut dan mobil saya, mobil hitam tersebut menambah kecepatannya. Karena sedang membututi, tanpa sadar saya ikut menambah kecepatan mobil saya.

Ketika saya melihat panel kecepatan, menunjukkan angka 160 km/jam. Padahal selama ini, kecepatan tercepat yang pernah saya tempuh adalah 140 km/jam, saya tidak berani melaju diatas itu.

Tapi dengan adanya mobil yang saya ikuti, saya bisa tembus rekor kecepatan mobil saya. Sesuatu yang sulit saya lakukan jika tidak ada sparringnya.

Karena saya berhenti di suatu tempat, saya kehilangan mobil hitam tersebut. Ketika saya mulai memacu kendaraan lagi, saya coba untuk berlari 160 km/jam lagi. Saya berhasil mencapai kecepatan tersebut tetapi tidak berani terlalu lama karena belum terbiasa.

Ketika kemudian ada mobil lain lagi yang melaju dengan kecepatan tinggi dan saya buntuti, saya bisa masuk lagi ke 160 km/jam dengan durasi yang cukup lama.

Sama seperti kehidupan ini, seringkali kita merasa sudah maksimal melakukan sesuatu. Kita merasa tidak mungkin lagi melakukan sesuatu yang lebih baik lagi. Namun kalau kita mempunyai sparring partner yang lebih hebat dari kita, entah itu seorang atasan, seorang coach, seorang mentor, role model atau apapun, maka kita bisa terpacu untuk mendapatkan hasil yang lebih baik lagi.

Namun jika kita belum matang belajar dari sparring partner kita dan mencoba untuk mandiri, mungkin agak sulit bagi kita untuk terus berada di kondisi sama seperti ketika ada sparring partner. Nantinya jika kita sudah mempunyai pola dan terbiasa, barulah kita mulai bisa mandiri.

Robert Kiyosaki mengatakan bahwa PENGHASILAN SESEORG ditentukan 5 ORG TERDEKATNYA. Ilustrasi saya mengenai kecepatan mobil bisa menjelaskan pernyataan dari Robert Kiyosaki tersebut.

Jika orang-orang di dekat kita hanya biasa-biasa saja, maka sulit bagi kita untuk melakukan sesuatu yang luar biasa. Namun kalau kita biasa tetapi di sekeliling nya luar biasa, maka kita akan terpacu untuk juga menjadi luar biasa.

Apakah ada penjelasannya secara Science ???

Ternyata ada. Di dalam otak manusia ada sekumpulan sel syaraf yang disebut Mirror Neuron, yang bertugas meniru apa yang dilakukan oleh orang lain.

Jika di sekelilingnya orang hebat atau luar biasa, maka Mirror Neuron kita akan meniru mereka sehingga menjadikan kita juga hebat dan luar biasa. Kalau sebaliknya, maka Mirror Neuron-pun juga akan meniru yang sebaliknya.

– Siapa MOBIL HITAM yang akan anda ikuti agar bisa menembus kecepatan anda selama ini ???

– Siapa ORG HEBAT dan LUAR BIASA yang akan anda ikuti agar bisa menembus batas yang selama ini membatasi hidup anda ???

TEMUKAN ORG TSB, Ikuti dan Pelajari bagaimana ia memandang dirinya, bagaimana keyakinan dan nilai-nilai kehidupan yang ia pegang, bagaimana ia membangun kapabilitasnya, bagaimana tingkah lakunya, maka anda akan mendobrak batas yang selama ini membatasi hidup anda !!!

Cari komunitas yg bisa saling memberikan kontribusi dan memotivasi agar kita bisa selalu  berbuat yang terbaik

Pengalaman yg sangat bisa  di buktikan dan dilakukan oleh kita. Senang nya berbagi 😊


Sumber : copas
Aura Kehidupan

Saya pernah merasakan hal yang tidak mengenakan dalam hidup ini dan ingin berbagi pengalaman kepada Sahabat semuanya. Suatu waktu saya merasa asing di lingkungan yang saya tempati. Seakan-akan semua orang yang ada di lingkungan saya tidak menganggap saya ada. Di kampus, di rumah, dan di jalan saya merasa sendiri. Dan memang benar orang-orang pun sedikit enggan untuk menyapa dan berbicara dengan saya, mereka menjauhi saya. Saya tidak tahu kenapa hal ini terjadi, pada saat itu yang ada di pikiran saya hanya segudang masalah yang menumpuk. Masalah yang membuat pikiran terasa buntu, membuat napas terasa sesak. Dalam hal ini, saya tidak bisa menceritakan masalah apa yang saya hadapi karena saya malu. Saya malu karena setelah benar-benar saya renungkan ternyata masalah yang saya hadapi sangatlah sepele, hanya saja pikiran saya yang terlalu mendramatisir keadaan sehingga seakan-akan sayalah orang yang paling menderita di dunia.

Kejadian ini saya renungkan baik-baik, kenapa lingkungan yang kudiami seakan-akan menjauh dari kehidupanku? Dan setelah beberapa hari membuat catatan harian tentang keluh-kesah saya, saya baca kembali dan ternyata hampir 90% isinya tentang perasaan negatif. Saya pun sadar dan menarik sebuah pelajaran penting akan hal ini. Ternyata, ada dua faktor yang bekerja dalam keadaan ini. Faktor itu adalah faktor internal dan faktor eksternal diri saya.

Faktor internal yang berpengaruh adalah "aura" tubuh. Saya sadar ketika seseorang mengalami kesedihan yang didramatisir, maka kesedihan itu akan terpancar ke dalam tindakan kesehariannya. Kepala akan tertunduk ke bawah, berjalan dengan gaya yang lunglai, berbicara hanya sepatah dua patah kata, punggung membungkuk dan yang menjadikan masalah saya semakin buruk adalah saya menutup diri dari lingkungan. Dari semua gerak-gerik tubuh yang seperti ini, akan mendapatkan respons dari orang yang melihat. Dan saya yakin sekali respons yang didapat pun merupakan respons yang negatif. Sebagian orang akan merasa bosan dan malas apabila berbicara dengan orang yang memiliki aura negatif seperti ini. Mungkin inilah yang menyebabkan orang-orang menjauhi saya. Yah, apabila kita memancarkan aura negatif, kebaikan akan menjauh dari kita. Namun apabila kita memancarkan aura positif, maka kita akan menjadi orang yang menyenangkan. Berbicara tanpa beban, berjalan dengan percaya diri. dan orang lain akan merasakannya, sehingga mereka akan memberikan respons yang juga positf kepada kita.

Faktor kedua adalah faktor eksternal, yaitu hal-hal yang terjadi di luar tubuh kita, seperti kondisi psikologis orang lain, kondisi cuaca, perekonomianm dan lain-lain. Orang lain atau lingkungan akan menganggap kita ada, ketika kita memberikan manfaat kepada mereka. Kita tidak bisa memaksakan apa-apa kepada orang lain. Yang saya sadari adalah lingkungan itu bersifat pasif terhadap kita, maka itu kitalah yang harus aktif. Kita tidak bisa memaksa orang lain untuk menyayangi kita, tidak bisa memaksa mereka untuk memberikan apa yang kita inginkan. Yang hanya bisa kita lakukan adalah mencoba memperbaiki diri agar bisa bermanfaat bagi lingkungan dan mendapatkan respons yang baik dari mereka.

Dari dua faktor yang berpengaruh tadi, yang paling bisa saya pengaruhi adalah faktor internal diri saya. Dan saya pun fokus untuk mengubah aura negatif saya menjadi aura positif. Saya awali dengan mengubah sudut pandang perasaan saya. Apabila sebelumnya dalam menghadapi masalah, saya fokus kepada keluhan/kesedihan, maka sekarang saya fokus pada manfaat yang ada di dalamnya. Saya belajar untuk mensyukuri apa yang saya miliki. Setelah beberapa hari memperbaiki aura tubuh, saya pun merasa lebih bahagia. Dan ketika bertemu orang lain pun saya merasa lebih santai untuk menyapa mereka. Akhirnya perlahan-lahan lingkungan yang sebelumnya saya rasakan sepi berubah menjadi ramai. Ternyata, saya sendirilah yang menciptakan masalah tersebut.

Jadi ternyata, "Lingkungan sangat bergantung pada sikap kita terhadapnya. Jika keberadaan kita ingin diakui oleh orang lain, maka berikan manfaat bagi mereka. Buatlah diri kita menjadi individu yang simpatik; apabila tidak ada kita dirindukan, dan apabila ada kita didengarkan."

Yang saya lakukan untuk mengubah aura negatif menjadi positif:
 1. Ubah makna dari sudut pandang kejadian. Dari makna negatif menjadi makna yang lebih bermanfaat.
2. Mensyukuri apa yang dimiliki.
3. Memperbanyak gerakan tubuh/olahraga untuk memperlancar aliran darah.
 4. Sering-seringlah tersenyum bahagia.
5. Belajar untuk memahami kesulitan orang lain untuk mengasah empati dan meningkatkan rasa syukur.
 6. Tidak menutup diri ketika menghadapi masalah yang pelik, sebaiknya diskusikan dengan orang yang dipercaya.
 7. Fokus pada perbaikan diri.
 8. Mendekatkan diri pada Tuhan.

"Tidak ada jalan yang terbaik dalam menghadapi kesulitan hidup selain tetap berpikir dan bertindak positif dalam menghadapinya. Bukan dengan cara menyalahkan hal di luar tubuh, melainkan memperbaiki apa yang terjadi pada diri kita."


Sumber : copas

Demikian yang telah didengar, kurang lebih seperti ini. Dengan adanya tambahan sedikit, namun tidak berniat mengurangi esensinya. Luar biasa, super, kagum dan respek sehingga timbul niat berbagi. Sayang, jika Dharma yang telah didengar ini tidak dibagi ke yang lain.😇😊

Ceramah Dhamma Ajahn Suphol, Ajahn Brahm, dan Guo Jun Fa Shi
Minggu, 10 April 2016

Ajahn Suphol memberikan suatu kisah Jataka, dimana sang Bodhisatta dalam kehidupan lampaunya terlahir sebagai ketua kelompok burung. Kemudian, ia menemukan suatu ladang yang subur sebagai sumber makanan. Ia pun mengajak sekelompok kawanannya. Namun, saat terbang pulang kembali ke hutan, sang petani melihat, ia terbang belakangan dengan mulut yang penuh biji2an. Keesokan harinya tetap sama.

Sehingga suatu hari, sang petani berhasil menangkap sang ketua burung itu. Kemudian petani itu bertanya. Bodhisatta pun menjawab bahwa makanan itu ia bagi untuk orangtua. Selain itu, ia menaruh makanan di sangkar temannya yang lain. Intinya, Bodhisatta berbagi pada yang lain. Hal ini mencerminkan dalam kehidupan kita bahwa ketika memperoleh penghasilan, kita membaginya dalam 4 bagian.
1. Memberi pada Mama dan Papa. Meskipun, orangtua lebih banyak materi dibandingkan kita, namun hendaknya kita tetap memberi pada orangtua.
Kedua orangtua kita ini merupakan dewa tertinggi (brahma) di rumah kita. Karena kedua orangtua kita ini juga melambangkan sifat Brahma
a. metta, cinta kasih orangtua sungguh sangatlah besar. Ia mengharapkan anaknya senantiasa berbahagia.
b.  karuna, kita bisa melihat ketika kita sedang sakit, orangtua segera bertindak agar anaknya cepat sembuh dan terbebas dari penderitaan. Belas kasih yang besar.
c. Mudita, ketika kita bahagia dan sukses, orangtua pun turut berbahagia atas keberhasilan kita.
d. Upekkha, orangtua terus menjaga dan memantau perkembangan kita.
*sebagai tambahan dari saya, ketika ada anak yang bersikap tidak hormat, namun tetap saja orangtua mengasihi dan tetap menganggapnya sebagai anaknya.

Kemudian, poin selanjutnya.
2. Menyisihkan untuk kebutuhan keluarga.
3. Berbagi pada teman, tetangga, dan yang membutuhkan. Kita makhluk sosial. Oleh karena itu, kita menjalin keakraban dan persahabatan dengan teman yang baik.
4. Simpan untuk kebutuhan sendiri. Sewaktu-waktu mungkin ada suatu keperluan yang mendadak dan kita membutuhkan dana. Oleh karena itu, perlu adanya dana simpanan.

Kemudian Talkshow Ajahn Brahm dan Master Guo Jun di Mal Taman Palem.

Bahagia bisa ikut dengar ceramah hari ini dari Guru Besar. Banyak inspirasi2 yg didapat.

Rahasia kebahagiaan adalah mampu berkecukupan hati pada saat ini.
Mengerjakan sesuatu tidaklah berat, namun terus memikirkannya itu yang memberatkan suatu pekerjaan. Terkadang kita tidak bahagia dikarenakan berpikir terlalu banyak (thinking to much).

Tak perlu takut salah dalam mengambil keputusan, karena yang perlu diperhatikan juga adalah setelah keputusan itu diambil. Jika Anda memilih kiri, jalani dan jadikan itu bermanfaat dan sukses. Jika Anda pilih kanan, jalani dan jadikan itu bermanfaat dan sukses. Take action.

Jika kita bahagia, kita lebih berenergi dan sehat.

Apa arti 'penjara'? Terkadang kita memenjarakan diri kita sendiri. Segala hal yang tidak kita sukai adalah penjara. Contohnya. Seorang istri yang tidak menyukai suaminya. Maka, pernikahan jadi sebuah penjara. Suatu pekerjaan yang tidak kita sukai, maka pekerjaan itu adalah penjara bagi kita. Kemudian, tubuh ini menua dan sakit, kita tidak menyukainya, maka tubuh jadi suatu penjara. Perhatikanlah bahwa hidup kita dikendalikan oleh kondisi luar. Jika kondisi luar itu tidak sesuai dengan yang kita inginkan, maka kita terpenjara dan menderita. Lalu, bagaimana agar kita terbebas dari penjara-penjara dalam hidup kita ini? Yaitu dengan mengubah sikap kita melalui rasa berkecukupan. Contohnya, meskipun suami seperti ini, namun ia 'cukup' baik. Melalui rasa cukup, kita berhenti mencari-cari alasan yang membuat kita tidak puas, sehingga kita pun berdamai dengan diri sendiri dan orang lain. Batin pun sejuk.

Lanjut narasumber Master Guo Jun Fa Shi. Dengan resep kebahagiaan 'ACT'
Acceptance. Mampu menerima realita apa adanya.
Contentment. Punya hati yang berkecukupan (santacitta).
Transform, kita harus bisa berubah ke arah yang baik.
Sudah tau serakah dan benci itu tidak baik, tapi tetap saja dituruti. Oleh karena itu, mulai saat ini, praktikkan jalan yang benar, transform ke arah yang positif.

Selain itu, sifat kita maunya serba instan. Spt mie instan, kita menyukainya, padahal itu kurang baik. Maka dari itu, pentingnya kesabaran dalam hidup ini. Sabar dalam latihan, sabar dalam segala aktivitas yg kita lakukan.

Dan ingatlah tersenyum. :D

Lihatlah rupang Buddha yang senyum dan wajah Ajahn Brahm yang juga tersenyum.

Wish you all be happy.

Good night.

Indahnya mendengarkan Dhamma dan indahnya berbagi Dhamma

Sadhu... sadhu... sadhu...
😇😊🙏



Sumber : copas
"APA ADA YG SALAH?"

Tempo Doeloe .........

Org tua kita berangkat bekerja setelah mata hari terbit & sudah kem bali keru mah sebelum matahari terbenam....

Walaupun memiliki anak yg banyak.
Rumah & halaman pun tetap luas.
Bahkan tdk sedikit ada yg memiliki kebun.
Dan semua anak2nya ber sekolah.

Sekarang....

Banyak yg berangkat kerja subuh & smp ru mah setelah isya.

Tapi.....

Rumah & tanah yg di miliki tdk seluas rumah org tua kita.

Dan bahkan banyak yg takut memiliki anak ba nyak karena takut keku rangan.                                                                        Ada yg salah dgn cara hidup org MODERN...

Org tua kita hidup tan pa banyak ALAT BANTU
Tapi TENANG menjalani hidupnya.

Sementara kita yg di lengkapi dgn mesin cuci, kompor gas, HP, kendaraan, TV, email, FB, Twitter, i-pad, ruang an ber AC dll....

HARUSNYA mempermu dah hidup ini.
TAPI TERNYATA TIDAK

Smp2, tdk sempat kita MENIKMATI HIDUP, ka rena semua dilakukan TER BURU2

Berangkat kerja, TER BURU2
Pulang kerja,juga TER BURU2
Makan siang, TER BURU2
Dilampu merah, TER BURU2
Berdoapun, TER BURU2

Hanya MATI........
Yg tidak seorgpun mau TER BURU2

Karena ketakutan akan kurangnya harta u/ ke luarga smp2 kita HITU NGAN dlm MEMBERI...

Sementara  Tuhan tdk pernah hitungan dlm memberi rejeki kpd kita.

Bahkan karena lebih takut kehilangan peker jaan, kita berani mele watkan Ibadah

Smp dimanakah hidup kita pd hari ini.....???

Apa ini terjadi pd diri anda ?....

Smg menjadi renungan..
Dan Semua org2 tercinta... keajaiban pagi ini akan terlihat.. 
Coba copy paste ini kpd rekan anda, kedudukan apel merah akan berubah bila anda forward. Coba test
🍏🍏🍏🍏🍏🍏🍏🍏🍏🍏🍏🍏🍏🍏🍏🍏🍏🍏🍏🍏🍏🍎🍏🍏🍏🍏🍏🍏
Silahkan coba & Dibuktikan....


Sumber : copas

Copas an.

Kisah ini adalah tentang seorang wanita cantik yang kaya dan berpakaian mahal yang mengeluh kepada psikolog pribadinya bahwa ia merasa hidupnya hampa dan tidak memiliki arti.
Jadi, si wanita mampir untuk mengunjungi seorang konsultan untuk mencari kebahagiaan.


Si konsultan memanggil seorang wanita tua petugas kebersihan kantor tsb.

Konsultan kemudian menyatakan; "Aku akan memintanya bercerita tentang bagaimana ia menemukan kebahagiaan.

Tolong dengarkan dia baik-baik."

Duduklah si wanita tua di kursi dan ia berkisah:

"Suamiku meninggal karena malaria dan 3 bulan kemudian putraku satu-satunya meninggal ditabrak mobil. Aku tak punya siapapun. Aku tak lagi memiliki apapun. Aku tak bisa tidur. Aku tak bisa makan, aku tak pernah senyum kepada siapapum, aku bahkan berpikir untuk mengakhiri hidupku. Hingga suatu malam seekor anak kucing mengikutiku ke rumah dari kantor.
Diluar sangat dingin, jadi kuputuskan untuk membiarkan kucing tsb masuk ke rumah. Kuberikan dia susu, dan dia meminumnya hingga piringnya licin. Lalu dia bersurara "rrrr" dari badannya dan dia menggosokkan badannya ke kakiku, dan pertama kalinya setelah berbulan-bulan, aku tersenyum.

Lalu aku berpikir, jika menolong seekor anak kucing bisa membuatku tersenyum, mungkin melakukan sesuatu untuk orang lain bisa membuatku bahagia.

Jadi esok harinya aku memasak kue dan memberikannya kepada tetanggaku yang sedang sakit diatas ranjangnya.

Setiap hari kucoba untuk berbuat sesuatu yang menyenangkan untuk orang lain.
Aku sangat bahagia melihat mereka bahagia.

Hari ini, aku belum melihat seorang pun yang tidur dan yang makan seenak aku tidur dan makan.
 Aku menemukan kebahagiaan, dengan memberi kepada sesama."

Sang wanita kaya pun menangis seketika.
Dia memiliki semua hal yang bisa dibeli dengan uang, tapi dia kehilangan hal yang tidak bisa dibeli dengan uang.


# Keindahan hidup bukan tergantung seberapa bahagia anda; tetapi seberapa bahagia orang lain karena anda...
# Kebahagiaan bukanlah tujuan, ia adalah sebuah perjalanan.

# Bahagia bukanlah besok, tapi sekarang.

# Bahagia bukanlah ketergantungan, tapi keputusan.
# Kebahagiaan ialah tentang siapa anda, bukan apa yang anda miliki..😊

(*) Harimau yang Marah (*)

Hati kita ini bagaikan seekor harimau marah yang berada di dalam sangkar.  Jika hewan itu tidak berhasil mendapatkan apa yang diinginkannya,  ia akan mengaum-aum dan mengganggu.  Ia harus dijinakkan dengan meditasi.
Kekotoran batin kita juga bagaikan harimau yang sedang marah.  Harimau ini harus kita tempatkan di dalam sangkar yang terbuat dari kesadaran,  energi,  kesabaran,  dan keteguhan hati.  Kita kemudian tidak memberinya makanan sebagaimana biasa diinginkannya dan hewan itu pun akan perlahan-lahan mati dalam kelaparan.

~Y.M. Ajahn Chah~

Happy Uposatha Day, marilah kita  berAtthasila dan  berlatih Meditasi  dihari Uposatha ini. Semoga saya, teman-teman dan keluarga semuanya maju dalam Dhamma. Semoga semua mahluk berbahagia. O:)
Sadhu, Sadhu, Sadhu.
_/\_


         ,@@@,
.    (((((())))))
     ♣̮̮((Ơ̴̴̴͡  ˛̮  Ơ̴̴̴͡))♣̮̮
   (@ _)>(")<(_ @)
May All  be well, happy, ªήϑ peacefull
.  .  .  .  .


Sumber : copas
Seekor belalang telah lama terkurung dalam sebuah kotak. Suatu hari ia berhasil keluar dari kotak yang mengurungnya tersebut. Dengan gembira ia melompat-lompat menikmati kebebasannya.

Di perjalanan ia bertemu dengan seekor belalang lain. Namun ia keheranan kenapa belalang itu bisa melompat lebih tinggi dan lebih jauh darinya. Dengan penasaran ia menghampiri belalang itu, dan bertanya, “Mengapa kau bisa melompat lebih tinggi dan lebih jauh, padahal kita tidak jauh berbeda baik dari usia maupun bentuk tubuh?”

Belalang itupun menjawabnya, “Di manakah kau selama ini tinggal? Karena semua belalang yang hidup di alam bebas pasti bisa melakukan seperti yang aku lakukan”.

Saat itu si belalang baru tersadar bahwa selama ini kotak itulah yang selama ini membuat lompatannya tidak sejauh dan setinggi belalang lain yang hidup di alam bebas.

Kadang-kadang kita sebagai manusia tanpa sadar pernah juga mengalami hal yang sama dengan belalang. Lingkungan yang buruk, hinaan, trauma masa lalu, kegagalan yang beruntun, perkataan teman, atau pendapat tetangga, seolah membuat kita terkurung dalam kotak semu yang membatasi semua kelebihan kita.

Lebih sering kita mempercayai mentah-mentah apapun yang mereka tuduhkan kepada kita tanpa pernah berpikir benarkah kita separah itu? Bahkan lebih buruk lagi, kita lebih memilih untuk mempercayai mereka daripada mempercayai diri sendiri.

Tidakkah kita pernah mempertanyakan kepada hati nurani bahwa kita bisa “melompat lebih tinggi dan lebih jauh” kalau kita mau menyingkirkan “kotak” itu? Tidakkah kita ingin membebaskan diri agar bisa mencapai sesuatu yang selama ini kita anggap di luar batas kemampuan kita?

Beruntung sebagai manusia kita dibekali Tuhan kemampuan untuk berjuang, tidak hanya menyerah begitu saja pada apa yang kita alami.

Friends, teruslah berusaha mencapai apapun yang ingin kita capai. Sakit memang, lelah memang, tetapi bila kita sudah mencapai puncak, semua pengorbanan itu pasti terbayar.

Live with PASSION… 😊


Sumber : unknown

Wednesday, April 27, 2016

Mengalah untuk menang

Seorang biksu pulang dari memotong kayu di gunung, diperjalanan pulang berjumpa seorang pemuda bernama Alan yg baru saja menangkap seekor kupu di genggamannya..

Pemuda ini menantang biksu: "Hei biksu, gimana kalau kita bertaruh ?"

"Gimana bertaruhnya ?" tanya sang biksu.

"Coba tebak kupu dalam genggamanku ini hidup atau mati ? Kalau kamu kalah, sepikul kayu itu jadi milik saya." jawab Alan sang pemuda..

Sang biksu setuju, lalu menebak, "Kupu2 dalam genggamanmu itu mati."

Alan Sang pemuda ketawa ngakak, "kamu salah." sambil membuka genggamnya, kupu2 itu pun terbang pergi.

Sang biksu berkata, "baiklah, kayu ini milikmu." Setelah itu sang biksu menaruh pikulan kayunya dan pergi dengan gembira.

Alan tidak mengerti kenapa sang biksu begitu gembira, tapi mendapat sepikul kayu bakar, dia dengan gembira juga membawanya pulang.

Ayah si pemuda bertanya soal asal muasal sepikul kayu itu. Alan bercerita sesungguhnya. Sang ayah marah setelah mendengar cerita si anak, dan berkata, "Kamu mengira kamu betul menang ? Kamu kalah tapi tidak mengetahui bagaimana kalahnya."

Si anak bingung 360 keliling, Sang ayah memerintahkan anaknya memikul kayunya, berdua mereka mengantarkan kayu itu ke vihara biksu itu dan minta maaf kepada sang biksu..
Si biksu hanya mengangguk, tersenyum tanpa bilang apa2.

Dalam perjalanan pulang, Alan bertanya soal ketidak mengertiannya.
Sang ayah menarik napas panjang, menerangkan, "Biksu itu bilang kalau kupu itu sudah mati, baru kamu mau melepaskan kupu itu, sehingga kamu menang; kalau biksu itu bilang kupunya hidup, kamu pasti meremas kupu dalam genggamanmu hinga mati, juga kamu yg menang. Kamu mengira biksu itu tidak mengetahui kelicikanmu.?? Beliau kalah sepikul kayu, tapi memenangkan KASIH.

"Cinta kasih yg murni hanya memikirkan kebahagiaan semua mahkluk tampa pamrih, tapi yg Egois hanya memiikirkan apa yg aku dapatkan.

Semoga Semua makhluk Berbahagia


Sumber : copas