This blog is my library, mostly from other people's articles and only few are mine. I will re-read when I have time or whenever I want to
Saturday, January 7, 2012
Teacher: What will you do after growing up ?
Student: Facebooking...
T: NO ! I mean what will you BECOME ?
S: Admin of facebook pages ;)
T: OMG ! I MEAN what will you ACHIEVE after you grow up ?
S: Facebook Admin Rights
T: IDIOT ! I MEAN what will you do for your PARENTS ?
S: I create a page for them on facebook. 'I, MOM & DAD'
T: Stupid! What do your parents want from YOU ?
S: My facebook password !
T: Oh God ! What IS THE PURPOSE OF YOUR LIFE ?
S: Facebook but never face your books...
•*¨)ჱܓ ღ¸.•*´¨`*•.¸ღ¸)ჱܓ ¸.•*¨)ჱܓ (ღ¸.•*´¨`*•. ( `•.¸•*´¨`*•.
Life is like a coin. You can spend it any way you wish, but you can spend it only once.
Sometimes you have to make that decision about what is worth fighting for and what isn't worth fixing.
Sometimes, tears are a sign of unspoken happiness, and smile is a sign of silenced pain.
•*¨)ჱܓ ღ¸.•*´¨`*•.¸ღ¸)ჱܓ ¸.•*¨)ჱܓ (ღ¸.•*´¨`*•. ( `•.¸•*´¨`*•.
Friday, January 6, 2012
Aku Pernah Datang Dan Aku Sangat Penurut
True Story !!!
Yu Yuan Gadis Kecil Berhati Malaikat. yang berjuang hidup dari Leukimia Ganas, setelah merasa tidak dapat disembuhkan lagi, ia rela melepaskan segala-galanya dan menyumbangkan untuk anak-anak lain yang masih punya harapan. Sungguh .. tak abis kata2 untuk Yu Yuan. Terima kasih telah memberikan contoh mulia kepada kami…
Kisah tentang seorang gadis kecil yang cantik yang memiliki sepasang bola mata yang indah dan hati yang lugu polos. Dia adalah seorang yatim piatu dan hanya sempat hidup di dunia ini selama delapan tahun. Satu kalimat terakhir yang ia tinggalkan di batu nisannya adalah saya pernah datang dan saya sangat penurut. Anak ini rela melepasakan pengobatan, padahal sebelumnya dia telah memiliki dana pengobatan sebanyak 540.000 dolar yang didapat dari perkumpulan orang Chinese seluruh dunia. Dan membagi dana tersebut menjadi tujuh bagian, yang dibagikan kepada tujuh anak kecil yang juga sedang berjuang menghadapi kematian. Dan dia rela melepaskan pengobatannya.
Begitu lahir dia sudah tidak mengetahui siapa orang tua kandungnya. Dia hanya memiliki seorang papa yang mengadopsinya. Papanya berumur 30 tahun yang bertempat tinggal di provinsi She Cuan kecamatan Suang Liu, kota Sang Xin Zhen Yun Ya Chun Er Cu. Karena miskin, maka selama ini ia tidak menemukan pasangan hidupnya. Kalau masih harus mengadopsi anak kecil ini, mungkin tidak ada lagi orang yang mau dilamar olehnya. Pada tanggal 30 November 1996, tgl 20 bln 10 imlek, adalah saat dimana papanya menemukan anak kecil tersebut diatas hamparan rumput, disanalah papanya menemukan seorang bayi kecil yang sedang kedinginan. Pada saat menemukan anak ini, di dadanya terdapat selembar kartu kecil tertulis, 20 November jam 12.
Melihat anak kecil ini menangis dengan suara tangisannya sudah mulai melemah. Papanya berpikir kalau tidak ada orang yang memperhatikannya, maka kapan saja bayi ini bisa meninggal. Dengan berat hati papanya memeluk bayi tersebut, dengan menghela nafas dan berkata, “saya makan apa, maka kamu juga ikut apa yang saya makan”. Kemudian papanya memberikan dia nama Yu Yan.
Ini adalah kisah seorang pemuda yang belum menikah yang membesarkan seorang anak, tidak ada Asi dan juga tidak mampu membeli susu bubuk, hanya mampu memberi makan bayi tersebut dengan air tajin (air beras). Maka dari kecil anak ini tumbuh menjadi lemah dan sakit-sakitan. Tetapi anak ini sangat penurut dan sangat patuh. Musim silih berganti, Yu Yuan pun tumbuh dan bertambah besar serta memiliki kepintaran yang luar biasa. Para tetangga sering memuji Yu Yuan sangat pintar, walaupun dari kecil sering sakit-sakitan dan mereka sangat menyukai Yu Yuan. Ditengah ketakutan dan kecemasan papanya, Yu Yuan pelan-pelan tumbuh dewasa.
Yu Yuan yang hidup dalam kesusahan memang luar biasa, mulai dari umur lima tahun, dia sudah membantu papa mengerjakan pekerjaan rumah. Mencuci baju, memasak nasi dan memotong rumput. Setiap hal dia kerjakan dengan baik. Dia sadar dia berbeda dengan anak-anak lain. Anak-anak lain memiliki sepasang orang tua, sedangkan dia hanya memiliki seorang papa. Keluarga ini hanya mengandalkan dia dan papa yang saling menopang. Dia harus menjadi seorang anak yang penurut dan tidak boleh membuat papa menjadi sedih dan marah.
Pada saat dia masuk sekolah dasar, dia sendiri sudah sangat mengerti, harus giat belajar dan menjadi juara di sekolah. Inilah yang bisa membuat papanya yang tidak berpendidikan menjadi bangga di desanya. Dia tidak pernah mengecewakan papanya, dia pun bernyanyi untuk papanya. Setiap hal yang lucu yang terjadi di
sekolahnya di ceritakan kepada papanya. Kadang-kadang dia bisa nakal dengan mengeluarkan soal-soal yang susah untuk menguji papanya.
Setiap kali melihat senyuman papanya, dia merasa puas dan bahagia. Walaupun tidak seperti anak-anak lain yang memiliki mama, tetapi bisa hidup bahagia dengan papa, ia sudah sangat berbahagia. Mulai dari bulan Mei 2005 Yu Yuan mulai mengalami mimisan. Pada suatu pagi saat Yu Yuan sedang mencuci muka, ia menyadari bahwa air cuci mukanya sudah penuh dengan darah yang ternyata berasal dari hidungnya. Dengan berbagai cara tidak bisa menghentikan pendarahan tersebut. Sehingga papanya membawa Yu Yuan ke puskesmas desa untuk disuntik. Tetapi sayangnya dari bekas suntikan itu juga mengerluarkan darah dan tidak mau berhenti. Dipahanya mulai bermunculan bintik-bintik merah. Dokter tersebut menyarankan papanya untuk membawa Yu Yuan ke rumah sakit untuk diperiksa. Begitu tiba di rumah sakit, Yu Yuan tidak mendapatkan nomor karena antrian sudah panjang. Yu Yuan hanya bisa duduk sendiri dikursi yang panjang untuk menutupi hidungnya. Darah yang keluar dari hidungnya bagaikan air yang terus mengalir dan memerahi lantai. Karena papanya merasa tidak enak kemudian mengambil sebuah baskom kecil untuk menampung darah yang keluar dari hidung Yu Yuan. Tidak sampai sepuluh menit, baskom yang kecil tersebut sudah penuh berisi darah yang keluar dari hidung Yu Yuan.
Dokter yang melihat keadaaan ini cepat-cepat membawa Yu Yuan untuk diperiksa. Setelah diperiksa, dokter menyatakan bahwa Yu Yuan terkena Leukimia ganas. Pengobatan penyakit tersebut sangat mahal yang memerlukan biaya sebesar 300.000 $. Papanya mulai cemas melihat anaknya yang terbaring lemah di ranjang. Papanya hanya memiliki satu niat yaitu menyelamatkan anaknya. Dengan berbagai cara meminjam uang kesanak saudara dan teman dan ternyata, uang yang terkumpul sangatlah sedikit.
Papanya akhirnya mengambil keputusan untuk menjual rumahnya yang merupakan harta satu satunya. Tapi karena rumahnya terlalu kumuh, dalam waktu yang singkat tidak bisa menemukan seorang pembeli.
Melihat mata papanya yang sedih dan pipi yang kian hari kian kurus. Dalam hati Yu Yuan merasa sedih. Pada suatu hari Yu Yuan menarik tangan papanya, air mata pun mengalir dikala kata-kata belum sempat terlontar. “Papa saya ingin mati”.
Papanya dengan pandangan yang kaget melihat Yu Yuan, “Kamu baru berumur 8 tahun kenapa mau mati”. “Saya adalah anak yang dipungut, semua orang berkata nyawa saya tak berharga, tidaklah cocok dengan penyakit ini, biarlah saya keluar dari rumah sakit ini.”
Pada tanggal 18 juni, Yu Yuan mewakili papanya yang tidak mengenal huruf, menandatangani surat keterangan pelepasan perawatan. Anak yang berumur delapan tahun itu pun mengatur segala sesuatu yang berhubungan dengan pemakamannya
sendiri. Hari itu juga setelah pulang kerumah, Yu Yuan yang sejak kecil tidak pernah memiliki permintaan, hari itu meminta dua permohonan kepada papanya. Dia ingin memakai baju baru dan berfoto. Yu Yuan berkata kepada papanya: “Setelah saya tidak ada, kalau papa merindukan saya lihatlah melihat foto ini”. Hari kedua, papanya menyuruh bibi menemani Yu Yuan pergi ke kota dan membeli baju baru. Yu Yuan sendirilah yang memilih baju yang dibelinya. Bibinya memilihkan satu rok yang berwarna putih dengan corak bintik-bintik merah. Begitu mencoba dan tidak rela
melepaskannya. Kemudian mereka bertiga tiba di sebuah studio foto. Yu Yuan kemudia memakai baju barunya dengan pose secantik mungkin berjuang untuk tersenyum. Bagaimanapun ia berusaha tersenyum, pada akhirnya juga tidak bisa
menahan air matanya yang mengalir keluar. Kalau bukan karena seorang wartawan Chuan Yuan yang bekerja di surat kabar Cheng Du Wan Bao, Yu Yuan akan seperti selembar daun yang lepas dari pohon dan hilang ditiup angin.
Setelah mengetahui keadaan Yu Yuan dari rumah sakit, Chuan Yuan kemudian menuliskan sebuah laporan, menceritakan kisah Yu Yuan secara detail. Cerita tentang anak yg berumur 8 tahun mengatur pemakamakannya sendiri dan akhirnya menyebar keseluruh kota Rong Cheng. Banyak orang-orang yang tergugah oleh seorang anak kecil yang sakit ini, dari ibu kota sampai satu
Negara bahkan sampai keseluruh dunia. Mereka mengirim email ke seluruh dunia untuk menggalang dana bagi anak ini”. Dunia yang damai ini menjadi suara panggilan yang sangat kuat bagi setiap orang.
Hanya dalam waktu sepuluh hari, dari perkumpulan orang Chinese didunia saja telah mengumpulkan 560.000 dolar. Biaya operasi pun telah tercukupi. Titik kehidupan Yu Yuan sekali lagi dihidupkan oleh cinta kasih semua orang.
Setelah itu, pengumuman penggalangan dana dihentikan tetapi dana terus mengalir dari seluruh dunia. Dana pun telah tersedia dan para dokter sudah ada untuk mengobati Yu Yuan. Satu demi satu gerbang kesulitan pengobatan juga telah dilewati. Semua orang menunggu hari suksesnya Yu Yuan. Ada seorang teman di-email bahkan menulis: “Yu Yuan anakku yang tercinta saya
mengharapkan kesembuhanmu dan keluar dari rumah sakit. Saya mendoakanmu cepat kembali ke sekolah. Saya mendambakanmu bisa tumbuh besar dan sehat. Yu Yuan anakku tercinta.”
Pada tanggal 21 Juni, Yu Yuan yang telah melepaskan pengobatan dan menunggu kematian akhirnya dibawa kembali ke ibu kota. Dana yang sudah terkumpul, membuat jiwa yang lemah ini memiliki harapan dan alasan untuk terus bertahan hidup. Yu Yuan akhirnya menerima pengobatan dan dia sangat menderita didalam sebuah pintu kaca tempat dia berobat. Yu Yuan kemudian berbaring di
ranjang untuk diinfus. Ketegaran anak kecil ini membuat semua orang kagum padanya. Dokter yang menangani dia, Shii Min berkata, dalam perjalanan proses terapi akan mendatangkan mual yang sangat hebat. Pada permulaan terapi Yu Yuan sering sekali muntah. Tetapi Yu Yuan tidak pernah mengeluh. Pada saat pertama
kali melakukan pemeriksaan sumsum tulang belakang, jarum suntik ditusukkan dari depan dadanya, tetapi Yu Yuan tidak menangis dan juga tidak berteriak, bahkan tidak meneteskan air mata. Yu yuan yang dari dari lahir sampai maut menjemput tidak pernah mendapat kasih sayang seorang ibu. Pada saat dokter Shii Min
menawarkan Yu Yuan untuk menjadi anak perermpuannya. Air mata Yu Yuan pun mengalir tak terbendung.
Hari kedua saat dokter Shii Min datang, Yu Yuan dengan malu-malu
memanggil dengan sebutan Shii Mama. Pertama kalinya mendengar suara itu, Shii Min kaget, dan kemudian dengan tersenyum dan menjawab, “Anak yang baik”. Semua orang mendambakan sebuah keajaiban dan menunggu momen dimana Yu Yuan hidup dan sembuh kembali. Banyak masyarakat datang untuk menjenguk Yu Yuan dan banyak orang menanyakan kabar Yu Yuan dari email. Selama dua bulan Yu Yuan melakukan terapi dan telah berjuang menerobos sembilan pintu maut. Pernah mengalami pendarahan dipencernaan dan selalu selamat dari bencana. Sampai akhirnya darah putih dari tubuh Yu Yuan sudah bisa terkontrol. Semua orang-orang pun menunggu kabar baik dari kesembuhan Yu Yuan.
Tetapi efek samping yang dikeluarkan oleh obat-obat terapi sangatlah menakutkan, apalagi dibandingkan dengan anak-anak leukemia yang lain. Fisik Yu Yuan jauh sangat lemah. Setelah melewati operasi tersebut fisik Yu Yuan semakin lemah.
Pada tanggal 20 agustus, Yu Yuan bertanya kepada wartawan Fu Yuan: “Tante kenapa mereka mau menyumbang dana untuk saya? Tanya Yu Yuan kepada wartawan tersebut. Wartawan tersebut menjawab, karena mereka semua adalah orang yang baik hati”. Yu
Yuan kemudia berkata : “Tante saya juga mau menjadi orang yang baik hati”. Wartawan itupun menjawab, “Kamu memang orang yang baik. Orang baik harus saling membantu agar bisa berubah menjadi semakin baik”. Yu yuan dari bawah bantal tidurnya mengambil sebuah buku, dan diberikan kepada ke Fu Yuan. “Tante ini adalah surat wasiat saya.”
Fu yuan kaget, sekali membuka dan melihat surat tersebut ternyata Yu Yuan telah mengatur tentang pengaturan pemakamannya sendiri. Ini adalah seorang anak yang berumur delapan tahun yang sedang menghadapi sebuah kematian dan
diatas ranjang menulis tiga halaman surat wasiat dan dibagi menjadi enam bagian, dengan pembukaan, tante Fu Yuan, dan diakhiri dengan selamat tinggal tante Fu Yuan.
Dalam satu artikel itu nama Fu Yuan muncul tujuh kali dan masih ada sembilan sebutan singkat tante wartawan. Dibelakang ada enam belas sebutan dan ini adalah kata setelah Yu Yuan meninggal. Tolong,……. Dan dia juga ingin menyatakan terima kasih serta selamat tinggal kepada orang- orang yang selama ini telah memperhatikan dia lewat surat kabar. “Sampai jumpa tante,
kita berjumpa lagi dalam mimpi. Tolong jaga papa saya. Dan sedikit dari dana pengobatan ini bisa dibagikan kepada sekolah saya. Dan katakana ini juga pada pemimpin palang merah. Setelah saya meninggal, biaya pengobatan itu dibagikan kepada orang-orang yang sakit seperti saya. Biar mereka lekas sembuh”. Surat
wasiat ini membuat Fu Yuan tidak bisa menahan tangis yang membasahi pipinya.
Saya pernah datang, saya sangat patuh, demikianlah kata-kata yang keluar dari bibir Yu Yuan. Pada tanggal 22 agustus, karena pendarahan dipencernaan hampir satu bulan, Yu Yuan tidak bisa makan dan hanya bisa mengandalkan infus untuk bertahan hidup. Mula mulanya berusaha mencuri makan, Yu Yuan mengambil mie instant dan memakannya. Hal ini membuat pendarahan di
pencernaan Yu Yuan semakin parah. Dokter dan perawat pun secepatnya memberikan pertolongan darurat dan memberi infus dan transfer darah setelah melihat pendarahan Yu Yuan yang sangat hebat. Dokter dan para perawat pun ikut menangis.
Semua orang ingin membantu meringankan pederitaannya. Tetapi tetap tidak bisa membantunya. Yu Yuan yang telah menderita karena penyakit tersebut akhirnya meninggal dengan tenang. Semua orang tidak bisa menerima kenyataan ini melihat malaikat kecil yang cantik yang suci bagaikan air. Sungguh telah pergi kedunia lain.
Dikecamatan She Chuan, sebuah email pun dipenuhi tangisan menghantar kepergian Yu Yuan. Banyak yang mengirimkan ucapan turut berduka cita dengan karangan bunga yang ditumupuk setinggi gunung. Ada seorang pemuda berkata dengan pelan “Anak kecil, kamu sebenarnya adalah malaikat kecil diatas langit,
kepakanlah kedua sayapmu. Terbanglah……………” demikian kata-kata dari seorang pemuda tersebut.
Pada tanggal 26 Agustus, pemakaman Yu Yuan dilaksanakan saat hujan gerimis. Didepan rumah duka, banyak orang-orang berdiri dan menangis mengantar kepergian Yu Yuan. Mereka adalah papa mama Yu Yuan yang tidak dikenal oleh Yu Yuan semasa hidupnya. Demi Yu Yuan yang menderita karena leukemia dan melepaskan pengobatan demi orang lain, maka datanglah papa mama dari berbagai daerah yang diam-diam mengantarkan kepergian Yu Yuan.
Didepan kuburannya terdapat selembar foto Yu Yuan yang sedang tertawa. Diatas batu nisannya tertulis, “Aku pernah datang dan aku sangat patuh” (30 nov 1996- 22 agus 2005). Dan dibelakangnya terukir perjalanan singkat riwayat hidup Yu Yuan. Dua kalimat terakhir adalah disaat dia masih hidup telah menerima
kehangatan dari dunia. Beristirahatlah gadis kecilku, nirwana akan menjadi lebih ceria dengan adanya dirimu.
Sesuai pesan dari Yu Yuan, sisa dana 540.000 dolar tersebut disumbangkan kepada anak-anak penderita luekimia lainnya. Tujuh anak yang menerima bantuan dana Yu Yuan itu adalah : Shii Li, Huang Zhi Qiang, Liu Ling Lu, Zhang Yu Jie, Gao Jian, Wang Jie. Tujuh anak kecil yang kasihan ini semua berasal dari keluarga tidak
mampu. Mereka adalah anak-anak miskin yang berjuang melawan kematian.
Pada tanggal 24 September, anak pertama yang menerima bantuan dari Yu Yuan di rumah sakit Hua Xi berhasil melakukan operasi. Senyuman yang mengambang pun terlukis diraut wajah anak tersebut. “Saya telah menerima bantuan dari kehidupan Anda, terima kasih adik Yu Yuan kamu pasti sedang melihat kami
diatas sana. Jangan risau, kelak di batu nisan, kami juga akan mengukirnya dengan kata-kata “Aku pernah datang dan aku sangat patuh”.
Thursday, January 5, 2012
Rayuan Gombal
;) » Mang kenapa?
:D »Teganya mencuri hatiku jadi aku ingat kamu selalu.
(asseek) :D
:D»Nganggur gak? Temenin aku jalan yuk
;;)»Kemana bang?
:D»Temenin menjalani sisa hidupku.
(Hãjarrr blehh) :D
♥ »Eh, kamu tahu gak?
;;) » Tahu apa?
♥ »Panas setahun dihapus hujan sehari,
Jomblo setahun dihapus kamu sehari.
(prikitiuww):D
♥♥»Senyum kamu kayak baking soda
;;) »Kok bisa?
♥♥ »Bikin senyumku ikutan mengembang.
(tarreek mang) :D
♥♥ »Kmu tau gak?
Orang2 selalu berkata ada musim panas ada musim dingin.
;;) »Kan emank iya.
♥♥ »Ya seh, tapi.... Sejak kenal kamu, yang aku tau cuma 1 musim... Musim rindu.
(galauuu...)
♥♥ »Dan kamu tau gak? Sejak kenal kamu, bawaanya pengen belajar terus deh.
;;) » masa šΐĭн°° .
♥♥ »Belajar jadi yang terbaik buat kamu.
>̴̴̴̴̴͡.̮Ơ̴͡
♥♥»Temenin aku ke rumah sakit yuk?
;;)» Ngapain?
♥♥»Hati aku ilang nih.
;;)»Kok bisa?
♥♥»Diambil kamu.
(Cihuuyy...)
♥♥»Mencintaimu itu kaya mancing ikan.
;;)»Maksudnya?
♥♥»Sekali dapet, gk akan aku lepas lagi
(yipi ye yipi yow) :D
♥»Tau motto Yamaha? ;;)»Tau bang.. 'Yamaha selalu didepan'
:*»Biarin deh Yamaha semakin di depan, aku maunya di samping kamu aja
(Jii媪aªªåªªåннн (¬_¬˚) ..).
♥♥»Cuma ada 3 manis alami di dunia ini, gula, madu dan KAMU
Hadoohh (ˇ_ˇ'!l)
♥♥»Jari kamu bagus ya?
;;)»Masya sech?
♥♥»Apalagi kalo ada jari aku di sela-selanya.
(Hahaha, ampunn) :D
♥♥»Kita ke toko bunga yuk!
;;)»Mau beli apa?
♥♥»Beli bibit cinta buat ditanam di hatimu
(wkwkwk) :D
♥♥»Motto Trans TV ap Ϋªª. ?
;;)»Trans TV milik kita bersama
♥♥»Kalo aku milik kamu selamanya. ({})
(yipi ye yipi yow) :D
♥♥» Ntar tolong izinin aku, ya.
;;)» Izinin apa?
♥♥» Izinin aku mencintai kamu sekali ini saja
(Prikitiuw...) :D
♥♥ » Tau Ък , mencintaimu kayak pipis di kolam renang.
;;) » Hah, kok bisa?
♥♥ »Iya, gk keliatan, tapi hangatnya terasa.
I've been walked on, used and forgotten and I don't regret one moment of it because in those moments, I've learned a lot - I've learned who I can trust and can't.
I've learned the meaning of friendship.
I've learned how to tell when people are lying and when they're sincere.
I've learned how to be a teenager, and how to grow up when I need to.
I've been to hell and back a few times, and I won't ever take what I have for granted.
This is life, live it one day at a time. You never know how many days you've got left.
I've learned the meaning of friendship.
I've learned how to tell when people are lying and when they're sincere.
I've learned how to be a teenager, and how to grow up when I need to.
I've been to hell and back a few times, and I won't ever take what I have for granted.
This is life, live it one day at a time. You never know how many days you've got left.
Wednesday, January 4, 2012
A girl broke his heart ,
his best girl friend tried so hard to be there for him & heal his wound.
Later he asked his friend to be with him under what he called "love".
She said yes not because that what she felt for him but she was afraid from loosing him & didn't like to break his heart again.
Later on she learned him how to forgive his ex. until he did.
Later on problems happened & he left his (best girl friend) with a broken heart & forgive his ex. who (broke his heart).
Really what a life !!!!
Tuesday, January 3, 2012
PHD
During a job interview :
.
Manager : Whats da highest level of education you obtained ?
.
.
.
.
.
Candidate : PHD
.
.
.
.
Manager : Great ! So tat means you have a doctor degree.....
.
.
.
.
Candidate : Well, No..... That means Passed Highschool with Difficulties :P ;)
Monday, January 2, 2012
MULAI DARI DIRI SENDIRI
Kita sering mengharapkan orang lain berubah lebih baik, keluarga kita berubah lebih baik, lingkungan kita, kota kita, bahkan negara kita dan dunia berubah menjadi lebih baik. Jadi sebenarnya siapa yang harus berubah lebih baik lebih dahulu?
Tulisan berikut ini terukir di atas batu nisan seorang pendeta Anglikan di Westminster Abby (tahun 1.100 A.D.)
Ketika saya masih muda dan bebas dan imajinasi saya tidak terbatas, saya bermimpi bahwa saya dapat mengubah dunia.
Sewaktu saya beranjak dewasa dan makin bijaksana, saya menyadari bahwa dunia tidak akan berubah, jadi saya memperkecil visi saya dan memutusksn untuk hanya mengubah Negara saya.
Namun, inipun sama saja, kelihatannya tidak dapat diubah.
Sewaktu usia saya makin lanjut, dalam sebuah usaha terakhir, saya berkomitmen untuk hanya mengubah keluarga saya, mereka yang dekat dengan saya, tapi mereka tidak berubah juga.
Dan sekarang, menjelang ajal, tiba-tiba saya menyadari : Andaikan saja saya hanya mengubah diri saya dulu, baru kemudian saya menjadi contoh untuk perubahan dalam keluarga saya.
Dari inspirasi dan dorongan mereka, saya mungkin akan dapat memperbaiki Negara saya, dan siapa tahu, mungkin saya telah mengubah dunia.
Kita tidak bisa mengubah sesuatu yang berada di luar kontrol kita, seperti masa lalu kita, siapa orangtua kita,
siapa presiden terpilih, bagaimana situasi ekonomi, jenis kelamin kita (kecuali Anda memutuskan untuk operasi), sejarah kita bahwa kita pernah sekolah di sekolah tertentu, guru sekolah kita siapa, bagaimana cuaca hari ini (kecuali pawang cuaca yang hebat), orang lain yang sudah omong apa tentang kita, bagaimana sikap atasan/anak buah yang sudah terjadi dsb.
Kita bisa mengubah sesuatu yang berada didalam kontrol kita. Misalnya keyakinan kita, sikap kita, kebiasaan
kita, semangat kita, fokus kita, tujuan kita, strategi kita, cara berpikir kita, cara bicara dan topik pembicaraan kita, cara bertindak kita, apa yang kita baca, siapa teman kita, pendidikan kita, siapa guru kita, rencana kita,
dsb
Bila kita terus berfokus untuk mengembangkan hal-hal yang bisa kita kontrol, area dalam pengaruh kita akan meluas. Misalnya, kita bisa mempengaruhi pemikiran orang lain, atasan kita, anak buah kita, situasi ekonomi, pemilihan presiden, dsb.
CHANGE IS THE ONLY EVIDENCE OF LIFE
When you change your attitude
You change your beliefs
When you change your beliefs
You change your expectations
When you change your expectations
You change your attitude
When you change your attitude
You change your behavior
When you change your behavior
You change your performance
When you change your performance
You change your destiny
When you change your destiny
You change your life
Sumber : http://rusdygunawan.blogspot.com
http://dhammacitta.org/forum/index.php?topic=9216.0
Tulisan berikut ini terukir di atas batu nisan seorang pendeta Anglikan di Westminster Abby (tahun 1.100 A.D.)
Ketika saya masih muda dan bebas dan imajinasi saya tidak terbatas, saya bermimpi bahwa saya dapat mengubah dunia.
Sewaktu saya beranjak dewasa dan makin bijaksana, saya menyadari bahwa dunia tidak akan berubah, jadi saya memperkecil visi saya dan memutusksn untuk hanya mengubah Negara saya.
Namun, inipun sama saja, kelihatannya tidak dapat diubah.
Sewaktu usia saya makin lanjut, dalam sebuah usaha terakhir, saya berkomitmen untuk hanya mengubah keluarga saya, mereka yang dekat dengan saya, tapi mereka tidak berubah juga.
Dan sekarang, menjelang ajal, tiba-tiba saya menyadari : Andaikan saja saya hanya mengubah diri saya dulu, baru kemudian saya menjadi contoh untuk perubahan dalam keluarga saya.
Dari inspirasi dan dorongan mereka, saya mungkin akan dapat memperbaiki Negara saya, dan siapa tahu, mungkin saya telah mengubah dunia.
Kita tidak bisa mengubah sesuatu yang berada di luar kontrol kita, seperti masa lalu kita, siapa orangtua kita,
siapa presiden terpilih, bagaimana situasi ekonomi, jenis kelamin kita (kecuali Anda memutuskan untuk operasi), sejarah kita bahwa kita pernah sekolah di sekolah tertentu, guru sekolah kita siapa, bagaimana cuaca hari ini (kecuali pawang cuaca yang hebat), orang lain yang sudah omong apa tentang kita, bagaimana sikap atasan/anak buah yang sudah terjadi dsb.
Kita bisa mengubah sesuatu yang berada didalam kontrol kita. Misalnya keyakinan kita, sikap kita, kebiasaan
kita, semangat kita, fokus kita, tujuan kita, strategi kita, cara berpikir kita, cara bicara dan topik pembicaraan kita, cara bertindak kita, apa yang kita baca, siapa teman kita, pendidikan kita, siapa guru kita, rencana kita,
dsb
Bila kita terus berfokus untuk mengembangkan hal-hal yang bisa kita kontrol, area dalam pengaruh kita akan meluas. Misalnya, kita bisa mempengaruhi pemikiran orang lain, atasan kita, anak buah kita, situasi ekonomi, pemilihan presiden, dsb.
CHANGE IS THE ONLY EVIDENCE OF LIFE
When you change your attitude
You change your beliefs
When you change your beliefs
You change your expectations
When you change your expectations
You change your attitude
When you change your attitude
You change your behavior
When you change your behavior
You change your performance
When you change your performance
You change your destiny
When you change your destiny
You change your life
Sumber : http://rusdygunawan.blogspot.com
http://dhammacitta.org/forum/index.php?topic=9216.0
HUKUMLAH DIRI SENDIRI !!
Kehidupan ini penuh dgn gejolak, setiap manusia pernah dan akan menghadapi hambatan serta rintangan dlm mengapai suatu keinginan.
Segala macam yg dpt mengagalkan kesuksesan bukan krn benda, barang, uang dan harta. hambatan dan rintangan bs saja datang dari org lain.
Akibat org lain menganggu maka hadirlah sebuah rasa kebencian dan kemarahan pd org yg menganggu, hal ini terjadi krn tdk adanya kesabaran di dlm diri. Ada istilah "Orang sabar di sayang Tuhan", istilah tersebut di balas dgn istilah lain yaitu "Kesabaran org ada batasnya".
Apa yg diri kita bs dptkan dgn kesabaran? yg pertama adalah kebahagiaan di dlm hati. org yg tak sabar akan mendapatkan kehancuran bagi dirinya sendiri.
Sebagai contoh paling banyak terjadi adalah adanya cinta jarak jauh, bila seseorg sabar dan setia serta bs mengatasi banyak rintangan dlm jalinan dgn cinta jarak jauh maka pd saatnya tiba ia akan bersatu berbahagia dgn kekasihnya, namun bila tak sabar maka kehancuran jalinan kasih antara dua insan.
Rintangan dan hambatan adalah tantangan utk mengapai sesuatu, semua yg ingin kita raih tak semudah membalikan telapak tangan. Tantangan yg datang dari org lain kadang menghadirkan kemarahan lalu benci di dlm diri.
Akibatnya adalah keinginan utk membalas seperti apa yg tlah org lain lakukan bahkan lebih dari apa yg org lain lakukan.
Ada org yg bahagia dgn mencelakai org lain, seperti apa yg dijelaskan Ajahn Brahm dlm buku "Si Cacing Dan Kotoran Kesayangannya" bahwa tak seharusnya seseorang menjadi penghukum orang lain.
Jangan kita menjadi org yg membalas dendam serta menjadi algojo atau pemberi pelajaran serta mengharapkan orang lain celaka dan menghukum orang yg telah menjadi penyebab kegagalan dirinya.
Yg harus seseorg lakukan bila gagal dlm meraih harapan adalah hukumlah diri sendiri jangan hukum org lain, diri sendiri yg kurang karma baik maka hukumlah diri sendiri dgn harus banyak melakukan kebaikan, tak hanya dengan harta tapi dengan perbuatan serta ucapan dan pikiran.
Sumber : http://dhammacitta.org/forum/index.php?topic=21448.0
Segala macam yg dpt mengagalkan kesuksesan bukan krn benda, barang, uang dan harta. hambatan dan rintangan bs saja datang dari org lain.
Akibat org lain menganggu maka hadirlah sebuah rasa kebencian dan kemarahan pd org yg menganggu, hal ini terjadi krn tdk adanya kesabaran di dlm diri. Ada istilah "Orang sabar di sayang Tuhan", istilah tersebut di balas dgn istilah lain yaitu "Kesabaran org ada batasnya".
Apa yg diri kita bs dptkan dgn kesabaran? yg pertama adalah kebahagiaan di dlm hati. org yg tak sabar akan mendapatkan kehancuran bagi dirinya sendiri.
Sebagai contoh paling banyak terjadi adalah adanya cinta jarak jauh, bila seseorg sabar dan setia serta bs mengatasi banyak rintangan dlm jalinan dgn cinta jarak jauh maka pd saatnya tiba ia akan bersatu berbahagia dgn kekasihnya, namun bila tak sabar maka kehancuran jalinan kasih antara dua insan.
Rintangan dan hambatan adalah tantangan utk mengapai sesuatu, semua yg ingin kita raih tak semudah membalikan telapak tangan. Tantangan yg datang dari org lain kadang menghadirkan kemarahan lalu benci di dlm diri.
Akibatnya adalah keinginan utk membalas seperti apa yg tlah org lain lakukan bahkan lebih dari apa yg org lain lakukan.
Ada org yg bahagia dgn mencelakai org lain, seperti apa yg dijelaskan Ajahn Brahm dlm buku "Si Cacing Dan Kotoran Kesayangannya" bahwa tak seharusnya seseorang menjadi penghukum orang lain.
Jangan kita menjadi org yg membalas dendam serta menjadi algojo atau pemberi pelajaran serta mengharapkan orang lain celaka dan menghukum orang yg telah menjadi penyebab kegagalan dirinya.
Yg harus seseorg lakukan bila gagal dlm meraih harapan adalah hukumlah diri sendiri jangan hukum org lain, diri sendiri yg kurang karma baik maka hukumlah diri sendiri dgn harus banyak melakukan kebaikan, tak hanya dengan harta tapi dengan perbuatan serta ucapan dan pikiran.
Sumber : http://dhammacitta.org/forum/index.php?topic=21448.0
Sunday, January 1, 2012
Memaafkan Diri Sendiri
Terkadang stress bukan datang dari faktor luar, tapi dari dalam diri sendiri. Seperti ketika kita melakukan sebuah kesalahan dan merasa bersalah terus karenanya. Rasa bersalah yang terus-menerus kita rasakan akan membuat diri kita selalu dihinggapi ketakutan. Takut berbuat kesalahan lagi dan kehilangan kepercayaan diri.
Ketidakmampuan kita untuk memaafkan diri sendiri bisa menjadikan kita terhenti. Kita yang akan terus terbeban karena perasaan bersalah itu membuat kita sendiri tidak bisa maju dan melanjutkan hidup. Yang jelas, walaupun kita merasa bersalah, kita tidak perlu terus-menerus menghukum diri sendiri. Dr. Phil McGraw, psikolog Amerika mengatakan bahwa kita punya pilihan: Kita bisa menjadi orang yang menyedihkan karena memikirkan rasa bersalah itu terus-menerus, atau kita mengijinkan diri sendiri untuk sembuh dan mencoba menjadi pribadi yang lebih baik.
Ada beberapa cara yang bisa diikuti untuk berdamai dengan diri sendiri :
Langkah Pertama : Bukalah Hati Dan Pikiran
Ketika sedang dihadapkan pada suatu pengalaman pahit, entah karena diri sendiri atau orang lain, pikiran dan hati kita akan tertutup untuk menghindari akan disakiti lagi.
Cobalah buka diri kita kembali dengan melihat apa yang sebenarnya terjadi dan yang kita alami. Katakan pada diri sendiri, “Saya bersedia mempertimbangkan bahwa ada jalan lain untuk menghadapi masalah saya daripada menutup hati dan diri saya.”
Langkah Kedua : Berikan Pilihan Kepada Diri Sendiri Untuk Kembali Mencintai
Rasa bersalah adalah istilah yang kita berikan untuk menampung semua yang jelek dan negatif dari yang pernah kita lakukan. Satu cara yang cukup ampuh dan menghindari rasa bersalah berkepanjangan adalah penyangkalan. Jika Anda terus membenci diri sendiri dan tidak bisa mencintai diri sendiri, maka kita tidak akan bisa menyembuhkan diri sendiri.
Langkah Ketiga : Hadapilah Rasa Bersalah Dan Cobalah Memahaminya
Kebanyakan orang beranggapan bahwa rasa bersalah kita adalah karena kita kehilangan orang yang kita kecewakan. Well,.. bukan hak kita melarang dia. Dia sudah memaafkan kita, dan dia harus menghadapi rasa terlukanya dengan caranya sendiri. Kita pun juga begitu, jangan terus menyalahkan diri sendiri. Hadapi rasa bersalah dengan memahaminya. Memahami setiap konsekuensi dari apa yang telah kita lakukan dan hadapi itu.
Langkah Keempat : Ijinkan Diri Sendiri Untuk Menyembuhkan Diri
Rasa bersalah bukan berarti kita tidak layak untuk berubah. Memaafkan diri sendiri juga berarti kita berhak untuk tidak dihukum selamanya. Menghukum diri terus-menerus bukan jalan keluar yang baik dan benar dan itu juga tidak akan mengubah kita menjadi pribadi yang lebih baik. Jika kita tetap menyimpan rasa bersalah, maka kita pun akan takut melakukan sesuatu untuk merubah diri ke arah yang lebih baik.
Langkah Kelima : Buatlah Suatu Hubungan Baru
Jika diri kita tidak sanggup memaafkan diri sendiri, berarti selama ini kita hanya mengharapkan sesuatu yang tidak nyata dengan kata, “Kalau saja…” dan itu tidak akan pernah selesai. Kita harus terus melanjutkan hidup. Sekali kita memutuskan untuk terus, kita harus membina hubungan baru dengan diri sendiri.
Sumber : http://dhammacitta.org/forum/index.php?topic=19982.0
Ketidakmampuan kita untuk memaafkan diri sendiri bisa menjadikan kita terhenti. Kita yang akan terus terbeban karena perasaan bersalah itu membuat kita sendiri tidak bisa maju dan melanjutkan hidup. Yang jelas, walaupun kita merasa bersalah, kita tidak perlu terus-menerus menghukum diri sendiri. Dr. Phil McGraw, psikolog Amerika mengatakan bahwa kita punya pilihan: Kita bisa menjadi orang yang menyedihkan karena memikirkan rasa bersalah itu terus-menerus, atau kita mengijinkan diri sendiri untuk sembuh dan mencoba menjadi pribadi yang lebih baik.
Ada beberapa cara yang bisa diikuti untuk berdamai dengan diri sendiri :
Langkah Pertama : Bukalah Hati Dan Pikiran
Ketika sedang dihadapkan pada suatu pengalaman pahit, entah karena diri sendiri atau orang lain, pikiran dan hati kita akan tertutup untuk menghindari akan disakiti lagi.
Cobalah buka diri kita kembali dengan melihat apa yang sebenarnya terjadi dan yang kita alami. Katakan pada diri sendiri, “Saya bersedia mempertimbangkan bahwa ada jalan lain untuk menghadapi masalah saya daripada menutup hati dan diri saya.”
Langkah Kedua : Berikan Pilihan Kepada Diri Sendiri Untuk Kembali Mencintai
Rasa bersalah adalah istilah yang kita berikan untuk menampung semua yang jelek dan negatif dari yang pernah kita lakukan. Satu cara yang cukup ampuh dan menghindari rasa bersalah berkepanjangan adalah penyangkalan. Jika Anda terus membenci diri sendiri dan tidak bisa mencintai diri sendiri, maka kita tidak akan bisa menyembuhkan diri sendiri.
Langkah Ketiga : Hadapilah Rasa Bersalah Dan Cobalah Memahaminya
Kebanyakan orang beranggapan bahwa rasa bersalah kita adalah karena kita kehilangan orang yang kita kecewakan. Well,.. bukan hak kita melarang dia. Dia sudah memaafkan kita, dan dia harus menghadapi rasa terlukanya dengan caranya sendiri. Kita pun juga begitu, jangan terus menyalahkan diri sendiri. Hadapi rasa bersalah dengan memahaminya. Memahami setiap konsekuensi dari apa yang telah kita lakukan dan hadapi itu.
Langkah Keempat : Ijinkan Diri Sendiri Untuk Menyembuhkan Diri
Rasa bersalah bukan berarti kita tidak layak untuk berubah. Memaafkan diri sendiri juga berarti kita berhak untuk tidak dihukum selamanya. Menghukum diri terus-menerus bukan jalan keluar yang baik dan benar dan itu juga tidak akan mengubah kita menjadi pribadi yang lebih baik. Jika kita tetap menyimpan rasa bersalah, maka kita pun akan takut melakukan sesuatu untuk merubah diri ke arah yang lebih baik.
Langkah Kelima : Buatlah Suatu Hubungan Baru
Jika diri kita tidak sanggup memaafkan diri sendiri, berarti selama ini kita hanya mengharapkan sesuatu yang tidak nyata dengan kata, “Kalau saja…” dan itu tidak akan pernah selesai. Kita harus terus melanjutkan hidup. Sekali kita memutuskan untuk terus, kita harus membina hubungan baru dengan diri sendiri.
Sumber : http://dhammacitta.org/forum/index.php?topic=19982.0
If you...
If you have food in your fridge, clothes on your back, a roof over your head, and a place to sleep, you are richer than 75% of the world.
If you have money in the bank, your wallet, and some spare change, you are among the top 8% of the world’s wealthy.
If you woke up this morning with more health than illness, you are more blessed than the million people who will not survive this week.
If you have never experienced the danger of battle, the agony of imprisonment or torture, or the horrible pangs of starvation, you are luckier than 500 million people alive and suffering.
If you can read this message you are more fortunate than 3 billion people in the world who cannot read it at all."
We would all be more happy and have plenty to be grateful for...if only we would count our blessings rather than our problems.
Kisa Gotami
Kisa Gotami Theri yang tercerahkan melalui pengalaman kehilangan
Adakah segala sesuatu yang kita miliki atau yang ada dihadapan dan disekeliling kita ini akan terus selamanya berada bersama kita?
Apakah segala sesuatu itu kekal abadi selamanya?
Benda-benda yang kita miliki, keluarga, orang tua, anak, saudara atau teman-teman yang kita cintai, adakah mereka semua selalu bersama kita dan kita selalu bersama mereka?
Jawaban akan hal ini tentu mudah, karena pengetahuan mengajarkan kita bahwa segala sesuatu itu akan berubah, hilang dan lenyap.
Orang-orang yang kita cintai akan meninggalkan kita entah untuk sesuatu yang menyangkut perjalanan hidupnya atupun karena alasan lainnya, namun yang pasti mereka akan berlalu dan berpisah dari kita karena adanya peristiwa kematian.
Pengalaman hidup ini begitu wajar, alami dan dapat atau bahkan kerap kita saksikan. Namun, apakah peristiwa perubahan ini akan sungguh dapat diterima bila diri sendiri yang mengalaminya?
Bagaimana seseorang bisa menerima dan menghadapinya atas lenyapnya segala kebersamaan terhadap apa yang dicintai, dengan segala apa yang selama ini telah dibangun dengan kerja keras, dipelihara dan dirawat dengan ketekunan dan kasih sayang lenyap ketika dewa ketidak-kekalan itu datang menerpa?
Nyatanya seringkali apa yang dilihat, apa yang dimengerti, memang bisa berbanding terbalik dengan apa yang dialami.
Perasaan nikmatnya berkhotbah ketidak-kekalan dihadapan umat, ternyata bisa berbanding terbalik dengan datangnya rasa pedih ketika datangnya pemberitahuan ada orang yang dicintai meninggal
Pengetahuan dan pengalaman itu memang tidak persis sama, tidak selalu berbanding lurus, tidak selalu menumbuhkan kesadaran penerimaan dalam garis atau level yang sama.
Tapi, bagi Siddharta Muda yang peristiwa fenomena ketidak-kekalan ini:
menjadi tua, sakit, dan mati, yang tampaknya wajar, alami, yang orang lain telah tahu itu bukanlah sekedar pengetahuan semata.
Peristiwa fakta yang universal itu, menumbuhkan pengalaman kesadaran yang begitu kuat dan dalam.
Dan bagi Siddharta Muda adalah suatu pengalaman, tidak sekedar pengetahuan.
Justru pengalaman inilah yang menjadikan kesadarannya terlibat dan menumbuhkan pengalaman kesadaran dan pencerahannya atas pernerimaan adanya fakta universal bahwa segala sesuatu itu tidak kekal adanya.
Pengetahuan, kesadaran yang tumbuh atas keterlibatan dan pengalaman inilah yang diajarkan Hyang Buddha kepada Kisa Gotami.
Kisah Kisa Gotami yang diberi pelajaran oleh Hyang Buddha untuk bisa menerima fakta kehilangan, ketidak-kekalan atas segala sesuatu menyarankan kepada kita bahwa pengalaman hidup itu jauh lebih luas dan lebih bermakna dari sekedar pengetahuan.
Kehilangan Yang Dicintai
Kisa Gotami adalah putri seorang kaya dari Savatthi.
Ia dikenal sebagai Kisa Gotami karena ia mempunyai tubuh yang langsing.
Bentuk tubuhnya yang cantik ini menjadikannya mudah untuk mendapat perhatian dan suntingan laki-laki manapun.
Begitulah, Kisa Gotami kemudian menikah dengan seorang pemuda kaya, dan dari pernikahannya ini ia memiliki seorang anak laki-laki.
Ia sangat mencintai kehadiran anaknya, namun anak satu-satunya ini kemudian meninggal dunia ketika baru saja belajar berjalan.
Kisa Gotami merasa sangat sedih atas kehilangan anaknya.
Dunia serasa runtuh, dan gempa mengguncang jiwanya. Anak yang dicintai buah dari pernikahannya yang manis meninggal ketika rasa bahagia itu meluap-luap.
Kisa Gotami tak kuasa menerima kenyataan itu.
Ia ingin anaknya kembali, ia ingin anaknya hidup kembali, ia menolak kuasa sang maut. Ia protes terhadap dewa kematian yang menerkam dan merusak kebahagiaan dan kesenangan hidupnya.
Lalu, dengan membawa mayat anaknya pergi untuk mencari obat yang dapat menghidupkan kembali anaknya dari setiap orang yang ditemui. Orang mulai berpikir bahwa ia telah menjadi gila.
Tetapi seorang bijaksana, yang melihat kondisinya, berpikir bahwa ia harus memberikan pertolongan, dan kemudian berkata kepadanya:
“Hyang Buddha adalah seorang yang harus kamu datangi.
Ia memiliki obat yang kamu butuhkan, pergilah kepadanya!”
Obat Kehidupan
Kisa Gotami kemudian pergi menermui Hyang Buddha dan bertanya, obat apakah yang dapat menghidupkan kembali anaknya?
Adakah obat kehidupan untuk mereka yang telah mati?
Adakah kehidupan itu dapat diteruskan?
Untuk memberi keyakinan dan penyadaran kepada Kisa Gotami yang belum mengakui dan menerima adanya kematian, Hyang Buddha kemudian menyuruhnya untuk mencari segenggam biji lada dari rumah keluarga yang belum pernah mengalami kematian.
Lalu, dengan membawa anaknya yang telah meninggal dunia di dadanya, Kisa Gotami pergi dari rumah ke rumah, untuk meminta segenggam biji lada, bila yang empunya rumah itu belum pernah mengalami kematian.
Setiap orang ingin menolongnya, tetapi ia tidak pernah menemukan sebuah rumah pun dimana kematian belum pernah terjadi.
Tak segenggam biji lada diperoleh Kisa Gotami, karena setiap rumah tangga yang dijumpainya pasti pernah mengalami adanya anggota keluarga yang meninggal.
Fakta kematian itu begitu universal dan berlaku atau menimpa kepada siapa saja.
Setelah Hyang Buddha memberi pelajaran kepada Kisa Gotami secara empirik melalui observasi langsung ini, akhirnya Kisa Gotami menyadari bahwa kematian itu memang dialami oleh siapa saja.
Ia mendapati bahwa tidak hanya keluarganya saja yang telah menghadapi kematian, tetapi terdapat juga banyak orang lain yang meninggal dunia daripada yang masih hidup.
Tak lama setelah menyadari hal ini, sikap terhadap anaknya yang telah meninggal dunia pun berubah.
Ia tidak lagi melekat kepada anaknya yang telah menjadi mayat itu.
Ia menyadari fenomena ketidak-kekalan.
Ia kini ikhlas melepas anaknya, dan kemudian meninggalkan mayat anaknya di hutan. Setelah itu, ia kembali kepada Hyang Buddha dan memberitahukan bahwa ia tidak dapat menemukan satu pun rumah keluarga dimana kematian belum pernah terjadi.
Fakta yang dijumpai dilapangan akhirnya menggugurkan segala harapannya untuk menolak adanya kematian, untuk tidak mengalami kehilangan, karena kenyataan menunjukkan bahwa setiap orang pasti pernah kehilangan, kehilangan keluarganya.
Penyadaran atas ketidak-kekalan ini, kemudian ditegaskan oleh Hyang Buddha: “Gotami, kamu berpikir bahwa hanya kamu saja yang kehilangan seorang anak, sekarang kamu menyadari bahwa kematian terjadi pada semua makhluk.
Setiap orang mengalaminya, dan sebelum keinginan mereka terpuaskan, kematian telah menjemputnya”.
Mendengar hal ini, Kisa Gotami benar-benar menyadari ketidak-kekalan, ketidak-puasan dan tanpa inti dari kelompok kehidupan (khandha) dan akhirnya mencapai kesucian sotappati.
Bhiksuni Kisa Gotami
Tak lama kemudian, Kisa Gotami menjadi seorang bhikhuni, dan perjalanan hidupnya menjadi rohaniwati ini pun semakin menghantarnya mencapai pencerahan sejati, pandangan terang tentang fenomena tiada berintinya segala sesuatu (anatta), bahwa segala sesuatu itu adalah kosong (sunya) tidak mengandung inti yang kekal, melainkan terus berubah, timbul tenggelam.
Pada suatu hari, ketika ia sedang menyalakan lampu, ia melihat api menyala kemudian mati. Tiba-tiba ia mengerti dengan jelas timbul dan tenggelamnya kehidupan makhluk. Kisa Gotami mencapai pencerahan, dan kejadian ini kemudian diketahui oleh Hyang Buddha.
Hyang Buddha melihat pencerahan Kisa Gotami itu dari Vihara Jetavana, dan kemudian dengan kemampuan batinnya yang luar biasa, beliau mengirimkan seberkas sinar serta memperlihatkan diri sebagai seorang manusia.
Hyang Buddha berkata kepada Kisa Gotami untuk meneruskan meditasinya dengan obyek ketidak-kekalan, bahwasannya kehidupan makhluk itu berada terus menerus dalam perjuangan untuk merealisasi nibbana.
Kemudian Hyang Buddha membabarkan syair 114 berikut:
Daripada hidup selama 100 tahun tanpa menyadari adanya
“keadaan tanpa kematian” (Nibbana),
lebih baik hidup satu hari melihat
“keadaan tanpa kematian”.
Akhirnya, setelah memperoleh pembelajaran langsung dari khotbah Hyang Buddha itu, serta melalui pengalaman yang diperolehnya, Kisa Gotami pun akirnya mencapai tingkat kesucian tertinggi.
Bhikhuni Kisa Gotami telah tercerahkan.
Ia mencapai tingkat kesucian Arahat yang tiada kekotoran batin lagi, dan telah terbebaskan dari segala kemelekatan, telah menembus kesunyaan segala sesuatu, bahwa segala sesuatu tiada yang kekal dan karenanya siapa pun juga pasti akan mengalami kehilangan.
Semoga semua makhluk berbahagia
Sumber : http://www.tamandharma.com
http://wihara.com/forum/topik-umum/11368-kisa-gotami-theri-yang-tercerahkan-melalui-pengalaman-kehilangan.html
Adakah segala sesuatu yang kita miliki atau yang ada dihadapan dan disekeliling kita ini akan terus selamanya berada bersama kita?
Apakah segala sesuatu itu kekal abadi selamanya?
Benda-benda yang kita miliki, keluarga, orang tua, anak, saudara atau teman-teman yang kita cintai, adakah mereka semua selalu bersama kita dan kita selalu bersama mereka?
Jawaban akan hal ini tentu mudah, karena pengetahuan mengajarkan kita bahwa segala sesuatu itu akan berubah, hilang dan lenyap.
Orang-orang yang kita cintai akan meninggalkan kita entah untuk sesuatu yang menyangkut perjalanan hidupnya atupun karena alasan lainnya, namun yang pasti mereka akan berlalu dan berpisah dari kita karena adanya peristiwa kematian.
Pengalaman hidup ini begitu wajar, alami dan dapat atau bahkan kerap kita saksikan. Namun, apakah peristiwa perubahan ini akan sungguh dapat diterima bila diri sendiri yang mengalaminya?
Bagaimana seseorang bisa menerima dan menghadapinya atas lenyapnya segala kebersamaan terhadap apa yang dicintai, dengan segala apa yang selama ini telah dibangun dengan kerja keras, dipelihara dan dirawat dengan ketekunan dan kasih sayang lenyap ketika dewa ketidak-kekalan itu datang menerpa?
Nyatanya seringkali apa yang dilihat, apa yang dimengerti, memang bisa berbanding terbalik dengan apa yang dialami.
Perasaan nikmatnya berkhotbah ketidak-kekalan dihadapan umat, ternyata bisa berbanding terbalik dengan datangnya rasa pedih ketika datangnya pemberitahuan ada orang yang dicintai meninggal
Pengetahuan dan pengalaman itu memang tidak persis sama, tidak selalu berbanding lurus, tidak selalu menumbuhkan kesadaran penerimaan dalam garis atau level yang sama.
Tapi, bagi Siddharta Muda yang peristiwa fenomena ketidak-kekalan ini:
menjadi tua, sakit, dan mati, yang tampaknya wajar, alami, yang orang lain telah tahu itu bukanlah sekedar pengetahuan semata.
Peristiwa fakta yang universal itu, menumbuhkan pengalaman kesadaran yang begitu kuat dan dalam.
Dan bagi Siddharta Muda adalah suatu pengalaman, tidak sekedar pengetahuan.
Justru pengalaman inilah yang menjadikan kesadarannya terlibat dan menumbuhkan pengalaman kesadaran dan pencerahannya atas pernerimaan adanya fakta universal bahwa segala sesuatu itu tidak kekal adanya.
Pengetahuan, kesadaran yang tumbuh atas keterlibatan dan pengalaman inilah yang diajarkan Hyang Buddha kepada Kisa Gotami.
Kisah Kisa Gotami yang diberi pelajaran oleh Hyang Buddha untuk bisa menerima fakta kehilangan, ketidak-kekalan atas segala sesuatu menyarankan kepada kita bahwa pengalaman hidup itu jauh lebih luas dan lebih bermakna dari sekedar pengetahuan.
Kehilangan Yang Dicintai
Kisa Gotami adalah putri seorang kaya dari Savatthi.
Ia dikenal sebagai Kisa Gotami karena ia mempunyai tubuh yang langsing.
Bentuk tubuhnya yang cantik ini menjadikannya mudah untuk mendapat perhatian dan suntingan laki-laki manapun.
Begitulah, Kisa Gotami kemudian menikah dengan seorang pemuda kaya, dan dari pernikahannya ini ia memiliki seorang anak laki-laki.
Ia sangat mencintai kehadiran anaknya, namun anak satu-satunya ini kemudian meninggal dunia ketika baru saja belajar berjalan.
Kisa Gotami merasa sangat sedih atas kehilangan anaknya.
Dunia serasa runtuh, dan gempa mengguncang jiwanya. Anak yang dicintai buah dari pernikahannya yang manis meninggal ketika rasa bahagia itu meluap-luap.
Kisa Gotami tak kuasa menerima kenyataan itu.
Ia ingin anaknya kembali, ia ingin anaknya hidup kembali, ia menolak kuasa sang maut. Ia protes terhadap dewa kematian yang menerkam dan merusak kebahagiaan dan kesenangan hidupnya.
Lalu, dengan membawa mayat anaknya pergi untuk mencari obat yang dapat menghidupkan kembali anaknya dari setiap orang yang ditemui. Orang mulai berpikir bahwa ia telah menjadi gila.
Tetapi seorang bijaksana, yang melihat kondisinya, berpikir bahwa ia harus memberikan pertolongan, dan kemudian berkata kepadanya:
“Hyang Buddha adalah seorang yang harus kamu datangi.
Ia memiliki obat yang kamu butuhkan, pergilah kepadanya!”
Obat Kehidupan
Kisa Gotami kemudian pergi menermui Hyang Buddha dan bertanya, obat apakah yang dapat menghidupkan kembali anaknya?
Adakah obat kehidupan untuk mereka yang telah mati?
Adakah kehidupan itu dapat diteruskan?
Untuk memberi keyakinan dan penyadaran kepada Kisa Gotami yang belum mengakui dan menerima adanya kematian, Hyang Buddha kemudian menyuruhnya untuk mencari segenggam biji lada dari rumah keluarga yang belum pernah mengalami kematian.
Lalu, dengan membawa anaknya yang telah meninggal dunia di dadanya, Kisa Gotami pergi dari rumah ke rumah, untuk meminta segenggam biji lada, bila yang empunya rumah itu belum pernah mengalami kematian.
Setiap orang ingin menolongnya, tetapi ia tidak pernah menemukan sebuah rumah pun dimana kematian belum pernah terjadi.
Tak segenggam biji lada diperoleh Kisa Gotami, karena setiap rumah tangga yang dijumpainya pasti pernah mengalami adanya anggota keluarga yang meninggal.
Fakta kematian itu begitu universal dan berlaku atau menimpa kepada siapa saja.
Setelah Hyang Buddha memberi pelajaran kepada Kisa Gotami secara empirik melalui observasi langsung ini, akhirnya Kisa Gotami menyadari bahwa kematian itu memang dialami oleh siapa saja.
Ia mendapati bahwa tidak hanya keluarganya saja yang telah menghadapi kematian, tetapi terdapat juga banyak orang lain yang meninggal dunia daripada yang masih hidup.
Tak lama setelah menyadari hal ini, sikap terhadap anaknya yang telah meninggal dunia pun berubah.
Ia tidak lagi melekat kepada anaknya yang telah menjadi mayat itu.
Ia menyadari fenomena ketidak-kekalan.
Ia kini ikhlas melepas anaknya, dan kemudian meninggalkan mayat anaknya di hutan. Setelah itu, ia kembali kepada Hyang Buddha dan memberitahukan bahwa ia tidak dapat menemukan satu pun rumah keluarga dimana kematian belum pernah terjadi.
Fakta yang dijumpai dilapangan akhirnya menggugurkan segala harapannya untuk menolak adanya kematian, untuk tidak mengalami kehilangan, karena kenyataan menunjukkan bahwa setiap orang pasti pernah kehilangan, kehilangan keluarganya.
Penyadaran atas ketidak-kekalan ini, kemudian ditegaskan oleh Hyang Buddha: “Gotami, kamu berpikir bahwa hanya kamu saja yang kehilangan seorang anak, sekarang kamu menyadari bahwa kematian terjadi pada semua makhluk.
Setiap orang mengalaminya, dan sebelum keinginan mereka terpuaskan, kematian telah menjemputnya”.
Mendengar hal ini, Kisa Gotami benar-benar menyadari ketidak-kekalan, ketidak-puasan dan tanpa inti dari kelompok kehidupan (khandha) dan akhirnya mencapai kesucian sotappati.
Bhiksuni Kisa Gotami
Tak lama kemudian, Kisa Gotami menjadi seorang bhikhuni, dan perjalanan hidupnya menjadi rohaniwati ini pun semakin menghantarnya mencapai pencerahan sejati, pandangan terang tentang fenomena tiada berintinya segala sesuatu (anatta), bahwa segala sesuatu itu adalah kosong (sunya) tidak mengandung inti yang kekal, melainkan terus berubah, timbul tenggelam.
Pada suatu hari, ketika ia sedang menyalakan lampu, ia melihat api menyala kemudian mati. Tiba-tiba ia mengerti dengan jelas timbul dan tenggelamnya kehidupan makhluk. Kisa Gotami mencapai pencerahan, dan kejadian ini kemudian diketahui oleh Hyang Buddha.
Hyang Buddha melihat pencerahan Kisa Gotami itu dari Vihara Jetavana, dan kemudian dengan kemampuan batinnya yang luar biasa, beliau mengirimkan seberkas sinar serta memperlihatkan diri sebagai seorang manusia.
Hyang Buddha berkata kepada Kisa Gotami untuk meneruskan meditasinya dengan obyek ketidak-kekalan, bahwasannya kehidupan makhluk itu berada terus menerus dalam perjuangan untuk merealisasi nibbana.
Kemudian Hyang Buddha membabarkan syair 114 berikut:
Daripada hidup selama 100 tahun tanpa menyadari adanya
“keadaan tanpa kematian” (Nibbana),
lebih baik hidup satu hari melihat
“keadaan tanpa kematian”.
Akhirnya, setelah memperoleh pembelajaran langsung dari khotbah Hyang Buddha itu, serta melalui pengalaman yang diperolehnya, Kisa Gotami pun akirnya mencapai tingkat kesucian tertinggi.
Bhikhuni Kisa Gotami telah tercerahkan.
Ia mencapai tingkat kesucian Arahat yang tiada kekotoran batin lagi, dan telah terbebaskan dari segala kemelekatan, telah menembus kesunyaan segala sesuatu, bahwa segala sesuatu tiada yang kekal dan karenanya siapa pun juga pasti akan mengalami kehilangan.
Semoga semua makhluk berbahagia
Sumber : http://www.tamandharma.com
http://wihara.com/forum/topik-umum/11368-kisa-gotami-theri-yang-tercerahkan-melalui-pengalaman-kehilangan.html
Penghalang di Jalan Kita
Zaman dahulu kala,tersebutlah seorang Raja, yang menempatkan sebuah batu besar di tengah-tengah jalan. Raja tersebut kemudian bersembunyi untuk melihat apakah ada yang mau menyingkirkan batu itu dari jalan.
Beberapa pedagang terkaya yang menjadi rekanan raja tiba di tempat, berjalan melingkari batu besar tersebut. Banyak juga yang datang kemudian memaki-maki sang Raja, karena tidak membersihkan jalan dari rintangan. Tetapi tidak ada satupun yang mau melancarkan jalan dengan menyingkirkan batu itu.
Kemudian datanglah seorang petani yang menggendong banyak sekali sayur mayur. Ketika semakin dekat, petani ini kemudian meletakkan dahulu bebannya, dan mencoba memindahkan batu itu ke pinggir jalan. Setelah banyak mendorong dan mendorong, akhirnya ia berhasil menyingkirkan batu besar itu. Ketika si petani ingin mengangkat kembali sayurnya, ternyata ditempat batu tadi ada kantung yang berisi banyak uang emas dan surat Raja.
Surat yang mengatakan bahwa emas ini hanya untuk orang yang mau menyingkirkan batu tersebut dari jalan. Petani ini kemudian belajar, satu pelajaran yang kita tidak pernah bisa mengerti. Bahwa pada dalam setiap rintangan, tersembunyi kesempatan yang bisa dipakai untuk memperbaiki hidup kita.
Subscribe to:
Posts (Atom)




